Yuk Fahamkan Istri, Jangan Egois dalam Berdakwah

JENDELA NURANI: Sebagai da’i kadang kita tanpa sadar berbuat ‘dzalim’ kepada istri dan keluarga. Kita lebih sibuk dengan urusan umat sementara istri harus jungkir balik di rumah mengurus anak-anak. Dakwah yang sejatinya adalah perjuangan yang mulia menjadi sesuatu yang menakutkan bahkan boleh jadi ‘dibenci’ oleh keluarga kita.

Mungkin secara umum istri kita faham bahwa dakwah adalah amaliah mulia, bejuang membina umat adalah panggilan jihad yang tinggi nilainya, namun sadar atau tidak, mau atau tidak, setiap mendengar kata dakwah yang terbayang di dalam benak istri kita adalah saat-saat dimana dia harus sendirian merawat rumah tangga dengan segala masalahnya.

Oleh sebab itulah wahai sahabatku sesama pejuang dakwah, mari minimalisir resistensi di hati istri dan anak kita dengan melakukan penanaman kesadaran akan pentingnya dakwah dan bahwa betapa kepergian kita dalam aktifitas kita bukanlah sesuatu yang harusnya ditakuti apalagi dibenci.

Caranya? Ya tentu diantaranya dengan sering-sering mengajak mereka berdiskusi soal problematika dan aneka aktifitas perjuangan kita.

Dan bukan hanya itu… Sedapat mungkin libatkan anak dan istri dalam sebagian kegiatan kita agar ia bisa merasakan betapa berat namun pentingnya tugas kita dalam mengemban amanah agama itu. Ajak mereka sekali-kali menjalani aktifitas kita agar mereka bisa merasakan betapa penting dan mulianya tugas suami dan ayah mereka. Sehingga mereka justeru kasihan hingga bangga melihat pengorbanan kita bukan marah dan kecewa.

Pendek kata kondisikanlah agar mereka (anak dan istri) merasa sebagai bagian dari program dakwah kita. Jangan biarkan mereka hanya menjadi penonton yang menyaksikan “keasyikan” kita dalam ‘mengayomi’ umat,  sementara mereka (terutama istri) hanya bisa mengamati dan memperhatikan kiprah kita dengan kecemburuan yang terpendam.

Saya kadang mendengar cerita istri saya tentang keluhan istri sebagian kawan  yang juga menjadi da’i ataupun aktifis lainnya.  Mereka (yang mengeluh ini) umumnya merasa seolah dinomorduakan oleh sang suami. Mereka merasakan bahwa waktu yang diberikan suami untuk mereka di rumah tak lebih dari waktu yang tersisa dari kelelahan suami saja. Bahkan ada yang terkesan bahwa nafkah yang diberikan suami adalah sangat kurang dibanding yang diberikan kepada orang lain yang bukan tanggung jawabnya.

Boleh jadi apa yang dirasakan oleh istri da’i tersebut adalah benar, bahwa suaminya memang terlalu asyik dengan umat hingga melupakan keluarganya. Namun tidak mustahil juga perasaan dinomorduakan itu hanyalah buah halusinasi akibat ketidak mengertian istri pada tanggung jawab sang suami sebagai da’i.

Maka mari kita introspeksi diri apakah segala aktifitas kita selama ini membuat istri kita bangga atau malah tersiksa? Jika ternyata istri kita merasa ‘tak nyaman’ dengan aktifitas kita, maka kita harus identifikasi lagi apakah karena kita memang sudah lalai dan abai pada keluarga, ataukah karena kesalahfahaman merekanya saja?

Jika setelah dianalisa memang kita sudah abai dan dzolim pada keluarga, maka mari kita perbaiki sikap kita. Namun jika perasaan itu hanya lantaran ketidakfahaman istri kita, maka tugas kita membimbing dia dengan cara yang lembut dan bijaksana.

Sebagaimana saya sebutkan di atas tadi, selain penyampaian melalui lisan bisa juga dengan kita sesekali melibatkan istri dalam aktifitas dakwah kita, mengajak ia berunding soal permasalahan objek dakwah kita hingga (kalau memungkinkan) menjadikannya salah seorang mitra dakwah kita, jika dia memiliki ilmu dan kesempatan.

Saudaraku, banyak hal yang menjadi tidak enak lebih karena perasaan. Maka bila kita bisa mengkondisikan perasaan dia masuk dalam aktifitas kita, bukan hanya kemaklunan yang akan dia berikan, bahkan kerepotan dan kesusahan yang ia rasakan dalam mendukung tugas dakwah kita bisa menjadi sesuatu yang membuat dia bangga dan bahagia.

Jadi, mari bimbing istri dan keluarga agar turut merasakan keindahan dakwah kita. Jangan kita egois dengan membiarkannya selalu ‘buruk sangka’.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita sebagai aktifis dakwah yang selalu mendapatkan dukungan dari keluarga kita dengan senang hati. Semoga keluarga kita juga dijadikan sebagai pejuang-pejuang agama sesuai tugas dan fungsi mereka. Dan semoga kita semua menjalani peran kita tersebut dalam rasa bahagia… Aamiin

Wallahu a’lam

Abdillah
Abdillah