“Barangsiapa yang menaati rasul itu, sesungguhnya ia telah menaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling, maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.”(Q.s. an-Nisa’: 80)

Saat ini tengah ramai perhitungan cepat dan perhitungan sementara pemilukada di berbagai daerah. Semua orang harap-harap cemas menyaksikan angka-angka yang berkejaran di layar TV. Ya, semua mata tertuju pada aneka prediksi hasil pemilihan kepala daerah, terutama yang kontroversi di jakarta sana.

Bagaimana tidak kontroversi, jika aneka hal-hal aneh berlangsung sejak sebelum pemilukada berlangsung. Mulai kasus sara yang menyeret salah seorang calon gubernur menjadi terdakwah kasus penistaan agama. Bukan sampai di situ saja, tidak ditahannya sang terdakwa, lalu maraknya KTP ganda, pengerahan masa pemilih di beberapa tempat pemilihan, serta aneka isu lain yang berseliweran di media membuat cukup gaduhnya suasana politik belakangan ini.

Kalah dan menang, itulah dua kata yang saat ini saling berkejaran di dalam benak para pemilih atau minimal simpatisan para calon pemimpin yang sedang berlaga. Semua berharap jagonya menjadi pemenang, dalam pengertian memperoleh suara terbanyak.

Saudaraku, sebagai muslim yang berkewajiban menyampaikan kepada sesama kita akan harusnya orang Islam memilih pemimpin yang seaqidah, kita sudah berusaha secara maksimal. Kita sudah menyampaikan kepada orang dekat maupun orang jauh, khususnya saudara seiman bahwa masalah kepemimpinan bukan sekedar perkara duniawi. Ia berhubungan dengan aqidah agama.

Masyarakat sudah tahu. Informasi sudah sampai kepada mereka dan semua pasti sudah memikirkan dengan kafasitas akalnya masing-masing. Maka saat terjadi proses pemilukada di wilayahnya masing-masing, disitulah perjuangan sesungguhnya dilakukan. Perjuangan menjaga aqidah dan syari’ah agama. Perjuangan membuktikan kepada siapa ia berpihak. Kepada Allah dan RasulNya, ataukah kepada orientasi dunia yang menjanjikan kesenangan sementara.

Selanjutnya pemilukada itu akan menetapkan siapa pemenangnya. Baik itu pemenang dalam konteks persaingan dunia maupun pemenang dalam dimensi keimanan dan ketaqwaan kepada TuhanNya. Semua akhirnya harus mengambil keputusan beserta konsekuensinya.

Sahabatku, mterpilihnya calon yang kita dukung memang merupakan kemenangan. Itu harus dicapai semaksimal mungkin, diperjuangkan dengan mengerahkan segenap kemampuan. Namun sekiranya perjuangan di TPS itu tidak juga berhasil, dan suara calon yang tidak kita harapkan ternyata lebih mendominasi, maka kita tidak perlu kecewa secara berlebihan.

Mengapa begitu? Karena itu hanyalah bagian kecil saja dari perjuangan dan hanya sedikit dari indikator kesuksesan dan kemenangan. Bagi orang-orang yang beriman memang hasil duniawi itu penting, namun sesungguhnya hasil ukhrawi jauh lebih penting lagi.

Pemilukada bukan hanya sebatas terpilih atau tidaknya pemimpin yang kita dukung namun lebih dalam dan lebih penting lagi adalah sejauh mana prosesnya kita jalani sesuai ketentuan agama. Bukankah aneka dinamika dunia ini tak lebih dari ujian sejauh mana kita menjalaninya dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala?

Mereka yang mendukung pemimpin yang tak sesuai syari’at agama misalkan. Sekiranya pemimpin tersebut yang berhasil meraih suara tertinggi, mereka mungkin merasa menang dan berbangga. Mereka merasa telah sukses dalam perjuangannya. Dan mereka boleh jadi sampai mengeluarkan statemen yang menghina saudara seiman yang teguh dengan pilihan ‘iman’ nya.

Benarkah mereka sudah menang? Benar, jika dipandang dalam konteks duniawi, mereka telah menang. Namun secara hakiki, jika mereka adalah seorang muslim namun memilih pemimpin yang tak sesuai dengan kriteria yang ditetapkan oleh Allah dan RasulNya, sungguh mereka telah mengalami kekalahan yang besar.

Sementara mereka yang sudah berupaya melaksanakan apa yang dituntunkan agamanya, teguh dengan pilihan ‘imani’ nya, meski kemudian calon yang dipilih tidak bisa meraih jabatan, mereka sudah menang. Mereka sudah berhasil mempertahankan keimanannya dan mereka tetap tegar dengan ketaatan kepada Allah dan RasulNya.

Jika anda berada pada posisi ini, berjuang mempertahankan prinsip agama dengan mentaati Allah dan RasulNya, maka anda sudah MENANG meski calon yang anda dukung tidak jadi pemimpin. Anda menang bukan karena siapa yang terpilih tapi karena keteguhan dan ketaatan anda memegang prinsip agama.

“Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan.”(Q.s. an-Nur: 52)

Sementara mereka yang merasa menang karena telah menentang agama Allah, padahal mereka mengaku muslim, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang tertipu oleh manipulasi dunia. Mereka boleh saja mengaku beriman, namun mereka tak serius membuktikan pengakuannya itu. Padahal Allah berfirman:

“Maka demi Tuhanmu, mereka tidak ber­iman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perse­lisih­kan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terha­dap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”(Q.s. an-Nisa’: 65)

Kewajiban kita hanyalah menyampaikan tuntunan agama yang sebenarnya. Selebihnya, semua akan ada dalam penilaian Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jadi jika kita menyaksikan bagaimana sebagian saudara kita yang sudah sampai dakwah kepadanya namun tetap dengan pilihan hidupnya, ya kita tak bisa berbuat apa-apa. Tugas kita hanyalah meneruskan firman Allah dan Hadits Nabi. Selebihnya biarlah semua berjalan sesuai taqdirNya.

“Katakanlah, ‘Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, dan jika kamu berpa­ling, maka sesungguhnya kewajiban rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewa­jiban rasul itu melainkan menyampaikan dengan terang’.”(Q.s. an-Nur: 54)

Jika usaha sudah maksimal dilakukan, meski hasilnya tak sesuai dengan yang kita harapkan, kita tak perlu kecewa berlebihan. Karena dari setiap amaliah tersebut kita hanya membuktikan seberapa ketaatan kita kepadaNya. Adapun hasilnya, jangan sampai membuat kita gundah dan bersedih hati. Berharaplah bahwa apa yang sudah kita lakukan berbalas pahala dan kasih sayang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat keba­jikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhan­nya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan mereka tidak bersedih hati.”(Q.s. al-Baqarah: 112)

Semoga apapun hasil aneka pemilukada yang berlangsung di seluruh Indonesia, tak pernah menyurutkan semangat juang kita untuk mendakwahkan kebenaran. Menang atau kalah calon yang kita dukung, kita sendiri harus tetap menang mempertahankan aqidah kita. Kemenangan yang sejati dan hakiki ketika segala amaliah perjuangan kita disambut rahmat dan keridhaan Allah Jalla wa A’la.

Wallahu a’lam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *