Kawan akrab, bahkan serantang-seruntung kemana-mana bersama,  tiba-tiba terpengaruh pemikiran ekstrim dan menyimpang. Akhirnya memutus silaturahmi. Kejadian seperti ini, puluhan tahun lalu sudah saya alami. Ketika di awal-awal terjun ke dunia dakwah, perbedaan organisasi yang berimplikasi pada pemutusan pertemanan bahkan hingga berujung pada permusuhan pun bukan hal aneh.

Itulah realita yang banyak terjadi ketika sebagian kelompok yang ‘sesat’ pemahamannya mulai berkembang di Indonesia ini. Mereka mudah diterima oleh kalangan anak muda yang rata-rata baru hijrah atau orang dewasa yang baru tobat dan mulai mengenal agama.

Ya, kesesatan mereka tidak tampak fulgar karena memang tersamar oleh syubhat yang sangat halus. Jika aliran semacam ahmadiyah dan syiah begitu mudah terdeteksi oleh kaum ahlussunah dengan ilmu standar sekalipin, maka golongan ekstrim yang satu ini sangat sulit diketahui kecuali oleh orang yang kaffah pemahaman ilmu-ilmu keislamannya.

Mereka mengaku ahlussunnah juga. Mereka menggunakan dalil Al-Qur’an dan Sunnah juga. Merekapun gemar mengutip perkataan sahabat dan generasi salaf. Namun para ulama mereka melakukan pemelintiran akan dalil-dalil tersebut. Bahkan kadang ada yan sampai melakukan tahrif (perubahan) pada kitab-kitab ulama salaf demi membenarkan pemahaman mereka.

Banyak anak muda baru hijrah atau orang awam baru tobat yang sedang bersemangatnya mengaji ilmu tergoda dengan tampilan pisik dan gaya retorika aliran ini. Mereka berhasil membangun penciteraan bahwa (seolah) segala apa yang menjadi pemahamannya paling cocok dengan Al Qur’an dan Sunnah Nabi.

Apalagi di lain sisi mereka dengan kejamnya melakukan pembantaian masal (bukan lagi pembunuhan) terhadap karakter para ulama yang tak sekelompok dengan mereka. Laqob (gelaran) buruk pun tak ragu mereka berikan baik kepada kelompok  maupun oknum ulama yang dianggap berpotensi membahayakan eksistensinya.

Nah, ketika anda memiliki teman yang sudah ‘terjerumus’ ke dalam sekte sesat ini, bersiaplah untuk melihat perubahan dahsyat pada dirinya. Kawan yang mungkin dulu menumpang makan dengan anda, yang pernah anda tolong saat terpuruk sekalipun, tiba-tiba sangat memusuhi dan memperhinakan anda. Padahal tidak ada urusan pribadi atara dia dengan anda.

Pernahkah saya mengalami hal yang seperti ini? Bukan pernah lagi namun sudah beberapa kali, hingga bisa dibilang sering.

Ya, perjalanan saya di dunia dakwah telah membuat saya saat ini telah sangat siap mental dengan kejutan-kejutan yang terjadi soal pertemanan dan persahabatan ini. Apalagi saya ini seorang guru yang juga cukup intens berdakwah di masyarakat. Tak sekali dua sahabat atau jamaah yang semula begitu tawadhu lagi penuh hormat tiba-tiba menghindar dan kemudian tak bertegur sapa sama-sekali. Kalaupun terkadang masih ada berbalas komentar di dunia maya itupun dengan gaya ketus dan melecehkan. Rupanya mereka sudah terkena syubhat dan fitnah kelompok “cebong dakwah” yang memaparkan bukti bahwa saya ini tidak beres manhajnya, bermesra-mesra dengan ahlul bid’ah dan harus ‘dihahr’ (dijauhi/diboikot) karena menebar syubhat.

Bajingan memang, cara dakwah kelompok ini menghalalkan segala cara demi membunuh karakter orang lain dan mencegah pengikutnya mendapat kebenaran dari luar mereka.

Sebenarnya dengan kemajuan teknologi informasi saat ini “modus-modus” jahat mereka ini sudah banyak terbongkar dan disadari orang. Makanya tak heran kemudian berbondong-bondong orang yang sadar dan menjauh dari majelis dakwah mereka. Namun ibarat penyakit, meski banyak yang sudah sembuh toh masih banyak pula orang-orang baru yang terjangkit.

Atau ibarat narkoba, meski sudah banyak yang bertobat dari pengaruh syubhat mereka, masih banyak pula pencandu-pencandu baru yang terjerat sindikat penyimpangannya.

Maka, jika saat ini saya sangat akrab dengan sahabat-sahabat saya, namun saya selalu menyiapkan hati dan perasaan jika suatu saat, baik perlahan maupun tiba-tiba, sahabat saya itu mentahzir dan meng-hajr (memboikot) saya. Sungguh tidak ada yang abadi di dunia ini. Alam saja bisa hancur tiba-tiba, apalagi hati manusia yang begitu rentan terbolak-balik setiap detiknya.

Wallahu a’lam
Samarinda 11 Januari 2018

JENDELA NURANI
(Abdillah Syafei)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *