Tempat dan Perkataannya

Semakin menyadari bahwa perdebatan khilafiyah di sosial media itu hampir tidak membawa manfaat sama sekali. Bahkan lebih banyak mudharat yang dihasilkannya.
Ya, berdakwah di berbagai media (sarana) itu bagus. Tapi tidak semua “bab” baik dibahas di setiap tempat. Utamanya soal ‘khilafiyah’ bagi saya pribadi sangat tidak pantas diperdebatkan di media sosial karena lebih banyak melahirkan caci maki dan kedengkian. 
Pantas saja para ulama mengatakan “likulli maqoolin maqoomun wa likulli maqoomin maqoolun”(tiap tempat itu ada perkataannya dan tiap perkataan itu ada tempatnya).
Memaksakan suatu bahasan di tempat yang tidak kondusip untuk itu,  justeru akan menjauhkan diri dari tujuan pembahasannya. Bukankah tujuannya adalah ajakan agar orang mengikuti pendapat kita? Maka kita harus bijak dalam menyalurkan semangat dakwah tersebut. 
Dakwah adalah mengajak, maksudnya tentu mengajak orang kepada kebaikan. Nah, kebaikan itu laksana obat, ia harus disampaikan (diberikan) kepada orang sesuai dengan dosisnya. Meski obat itu pada dasarnya adalah baik, tapi kalau diberikan overdosis ia malah bisa “meracuni”. 
Wallahu a’lam
Abdillah
Abdillah