Tawadhu’ Terhadap Guru

Diantara akhlaq mulia seorang ‘penuntut ilmu’ adalah tidak malu mengakui seseorang yang sudah memiliki andil dalam membimbing dirinya sebagai guru.

Namun sangat di sayangkan, berapa banyak penuntut ilmu di jaman sekarang ini yang kurang adab dan akhlaqnya terhadap guru.Ketika ia telah merasa memiliki pengetahuan yang banyak, ia meremehkan guru yag pernah berjasa membimbing dan mengenalkannya dengan ilmu. Boleh jadi  ia menganggap bahwa ilmu yang diberikan oleh si guru yang tak diakui tersebut hanyalah secuil dan tidak berarti apa-apa dibanding pengetahuannya sekarang.

Lebih parah dan payah lagi tak sedikit mereka yang telah bergelar guru/ustadz bukan hanya tak mengakui guru/ustadznya namun malah menghina dan menistakannya.

Semoga kita terhindar dari sifat durhaka ini… Semoga Allah lembutkan hati kita menjadi pribadi yang tawadu’ sehingga tak merasa tinggi dan lebih mulia mesi dari seorang guru yang hanya mengajrkan hurub alif dan ba kepada kita.

Diriwayatkan oleh Al–Imam Baihaqi, Umar bin Khattab mengatakan: “Tawadhulah kalian terhadap orang yang mengajari kalian”.

Al Imam As Syafi’i berkata tentang sikap beliau di depan gurunya (Imam Malik): “Dulu aku membolak balikkan kertas  di depan  Malik dengan sangat lembut karena segan padanya dan supaya dia tak mendengarnya”.

Masya allah, sedemikian sopannya Imam Syafi’i kepada guru beliau Imam Malik, hingga membolak balik kertas sekalipun beliau sangat hati-hati lantaran segan dan hormat kepada gurunya tersebut. Bandingkan dengan sebagian pelajar jaman sekarang yang bahkan berani bersikap kasar kepada guru mereka.

Semoga diri kita dan keturunan kita dijadikan oleh Allah sebagai manusia-manusia yang tawadhu dan gemar menghormati para ulama termasuk guru… Aamiin

(Abdillah Syafei)

Abdillah
Abdillah