Tak Ingin Dzalim Pada Keluarga

Diantara yang paling kutakutkan dalam menjalani rumah tangga ini adalah terlenanya aku dengan otoritas yang telah Allah berikan kepadaku,  terlenanya aku dengan kewajiban bakti istri-istriku, sehingga aku lupa ‘kewajiban’ untuk mengayomi, menyayangi, menghargai dan menjaga perasaan mereka.

Oleh karenanya, dalam banyak kesempatan tak pernah lupa aku mempertanyakan kepada anggota keluargaku; adakah sikap, tutur kata maupun keputusanku yang dimata mereka tidak adil, menyakitkan, atau mendzolimi harkat dan martabat mereka? Tidak pernah terlupa dalam do’a-do’aku aku memohon ampunan kepada Allah atas ketidakmampuanku dalam menegakkan keadilan di rumah tanggaku, atas ketidak sempurnaan pengabdianku kepada-Nya melalui amalan syari’at ini.

Berat… berat… berat… tanggung jawab yang menanti di hadapanku. Dan segala yang berat tersebut hanya akan menjadi ringan saat Allah Yang Maha Perkasa memberikan kekuatan kepadaku, saat Allah Yang Maha adil menggerakkan diriku untuk bersikap adil dalam keluargaku. Dan aku menyadari betapa kasih sayang yang dianugerahkan oleh Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang adalah ‘wadah’ bagiku meletakkan keadilan yang tidak menyakitkan dan ketegasan yang menentramkan.

Sebagai kepala rumah tangga, aku adalah pemimpin yang memiliki segudang kewajiban sekaligus memiliki aneka hak dan otoritas atas anggota keluargaku. Semua harus berjalan seimbang tidak boleh berlebihan di satu sisi sementara timpang di sisi yang lain. Saat aku menuntut pelayanan dan pengabdian anggota keluarga, saat itu pula aku harus  mengintrospeksi diriku seberapa   maksimal aku memenuhi hak-hak mereka.

Saat aku berharap cinta dan pengabdian mereka, saat itu pula aku terpacu untuk memperbanyak dan terus memperbesar pengayoman serta kasih sayangku kepada mereka. Sebagaimana sebuah coin yang memiliki dua sisi, maka begitu pulalah aku memperlakukan hatiku. Aku ingin ditaati maka aku harus maksimal mengayomi. Aku ingin disayangi, maka aku harus maksimal memberikan empati, bimbingan dan pengarahan.

Dibalik ‘keperkasaanku’ sebagai lelaki aku adalah manusia yang lemah di hadapan Rabbku. Aku adalah manusia yang tak berdaya dihadapan aneka cobaan yang diberikanNya. Sekali lagi, hanya pertolongan-Nya lah yang bisa menyelamatkanku dari aneka ‘badai’ yang menerjang bahtera rumah tangga.

Dan mereka, para anak dan istriku… adalah manusia-manusia biasa yang sama denganku. Mereka punya ambisi, hawa nafsu, kecemburuan, hingga satu atau dua perilaku buruk dalam hidupnya. Mereka sama dengan diriku yang bisa suka, sedih, marah maupun jenuh dalam menjalani rumah tangga ini. Hanya Kuasa, Kasih Sayang, dan Pertolongan-Nya lah yang tiada lelah selalu kami pinta.

Alhamdulillah, Allah tak pernah mengingkari janji-Nya. Dalam keterseokan, dalam aneka  cobaan, Dia tak pernah sekejabpun ‘meninggalkan’ kita. Dia selalu melindungi, menjaga dan memberkahi hamba-hambanya. Bahkan kami yang masih banyak berbuat salah dan dosa, kerunia-Nya tak pernah berhenti mengalir dan memenuhi segala kebutuhan lahir dan batin kami.

Ya Rabb… jagalah selalu diri kami… Lindungi kami… Tetapkan kami dalam keimanan kepadamu… Kuatkanlah aqidah kami… masukkanlah selalu kami dalam hamba-hamba yang kau cintai… Aamiin

12/3/2014

JENDELA NURANI
(Abdillah Syafei)

Abdillah
Abdillah