Mungkin ini hanya sekedar ungkapan pendapat yang melengkapi keragaman pemikiran yang ada. Setiap kita boleh saja berbeda bahkan bertentangan dalam pemahaman. Sahabat yang membaca, sah-sah saja bila menganggap pendapat saya ini salah. Sebaliknya saya juga tentu boleh beranggapan pendapat orang lain yang salah. 
Dulu saya mengawali hobi tulis menulis di media massa, adalah dengan menulis opini. Ya, saya hanya memaparkan ide-ide, gagasan, bahkan tanggapan terhadap berbagai hal yang ada di sekeliling saya. Mulai dari hal yang ringan sampai hal yang berat, misalnya menyangkut politik dunia.
Meskipun koran tempat saya menulis adalah media berita, namun ia juga menyediakan wadah buat para penulis untuk beropini, baik yang masih bersifat analisa nyata maupun sekedar fiksi semata. 
Yang jelas, meskipun itu adalah koran berita, tetap pula menyuguhkan tulisan opini, bahkan fiksi seperti cerpen dan cerita bersambung. Ya, mungkin karena opini, artikel, bahkan sastra merupakan produk media massa juga. Banyak ahli jurnalistik menganggap opini sebagai bagian dari karya jurnalistik. Makanya ada Istilah “opinion jurnalism” (jurnalisme opini). 
Ada bermacam jenis tulisan opini,  diantaranya: artikel (article), kolom (column), tinjauan (essay), tajukrencana (editorial atau opini redaksi), surat pembaca (letter to the editor), karikatur, dan pojok. Dan semua itu merupakan bagian dari karya jurnalistik.
Demikian pula, menurut saya apa yang dimuat halaman medsos Pemerintah Kota Samarinda beberapa waktu lalu yang berisi opini soal rumah panggung. Tidak selalu postingan itu harus berbentuk berita yang ada narasumbernya (berupa orang). Karya sastra saja yang berupa khayalan masih bisa dimuat selama ada manfaatnya, apalagi opini yang masih dimulai dari pengamatan terhadap fakta ini. Dalam jurnalistik, ini kalau tak salah disebut “fact in idea” (fakta dalam gagasan). 
Informasi akan adanya rumah panggung di lokasi banjir misalnya,  adalah fakta yang bahkan dilengkapi dengan foto nyata. Baru setelah itu si penulis beropini bahkan menyampaikan ajakan untuk menirunya.
Jadi menurut saya (pendapat saya loh) cukup berlebihan dan terkesan dicari-cari bila postingan yang seperti itu dianggap sebagai pernyataan resmi pemerintah kota yang menginstruksikan warganya membuat rumah panggung. Untuk menginstruksikan hal seperti itu perlu dibuat peraturan semacam perda (atau apalah) bukan sekedar ulasan singkat.
Sebagaimana narasumber berita di halaman media sosial pemkot tidak mesti harus walikota atau pejabat pemkot, penulis opini juga tidak mesti walikota atau pejabat pemkot. Apalagi di situ jelas sekali tertulis siapa nama penulisnya, dan dia memang jurnalis pemkot yang biasa terjun ke lapangan.  Dari apa yang dilihatnya itulah dia memiliki pemikiran (opini) terhadap fakta yang ada di depan mata. Ini juga karya jurnalistik.
Jadi, rasanya tidak tepat juga kalau ada yang mengharuskan bahwa sebuah karya jurnalistik itu mesti berbentuk reportase hasil wawancara dengan narasumber tertentu. Minimal kalau teori itu adalah ajaran jurnalistik yang dia dapat selama ini,  maka harusnya dia paham kalau ada madzhab jurnalistik lain di dunia ini.  
Tapi memang begitulah di dunia medsos, setiap orang ingin tampil dan menarik perhatian. Terkadang bahkan dengan mencari-cari celah buat menyalahkan bahkan menjelekan lembaga atau perorangan. 
Tapi percayalah bahwa hidup ini hanya sebuah pergiliran, baik susah maupun senang, dipuji maupun dicela, membutuhkan atau dibutuhkan. Semua akan berganti seiring waktu. 
Mungkin sang jurnalis yang menulis opini soal rumah panggung itu sedang kena sialnya saja. Sebenarnya ia bertujuan baik dan pastinya bukan mengatasnamakan lembaga pemkot. Meski diposting di medsos milik pemkot, ia selaku penulis tetap menampilkan uraiannya sebagai sebuah opini pribadi. Bukan atas nama walikota, sekda, ataupun pejabat  lainnya. Buktinya di akhir tulisan dengan jelas dia mencantumkan namanya sebagai penulis.
Kalau dianggap salah, maka saya tak menemukan kesalahan dalam isi tulisannya. Tapi kalau dibilang “ceroboh”, mungkin masih bisa disebut begitu. Itupun penilaian dari sudut pandang intern,  yakni si penulis tidak hati-hati membuat opini yang bisa mengundang reaksi negatif dari netizen. Karena meskipun cerita yang dia tulis dan opini yang menyertainya adalah sah-sah saja, namun mungkin ia lupa bahwa masih banyak orang yang tidak tahu kalau itu karya jurnalistik juga. 
Anggapan awam mungkin, yang namanya siaran pers dan karya jurnalisme itu ya harus berbentuk reportase hasil wawancara dengan narasumber tertentu.  
Makanya sebenarnya saya antara setuju dan tidak setuju bila postingan dihapus dari medsos pemkot.  Saya tidak setuju dihapus karena menurut saya tulisan opini itu tidak salah dan merupakan bagian karya jurnalistik. Namun bila dipandang dari sudut kemaslahan, yakni menghindari (menyudahi) polemik ya saya setuju-setuju saja. Yang penting secara administrasi intern dibuatkan laporannya mengapa terjadi penghapusan mengingat postingan sudah diregistrasi.  
Namun terus terang terlepas dari pembicaraan benar dan salah, yang membuat saya agak mengernyitkan dahi adalah bahwa yang membahas postingan itu dan terkesan sangat menikmati bisa mengulik “kekhilafan” sang penulis adalah sebagian orang yang selama ini sering berinteraksi dengan pemkot. Bahkan bisa dibilang punya hubungan baik.
Entahlah, mengapa bisa setega itu, dan seakan melupakan hubungan baik yang selama ini dibina? 
Betul sih bahwa yang namanya  kritik itu bagus dan tak memandang teman atau atau bukan. Apa yang diyakini sebagai kebenaran wajib disampaikan.  Namun paling tidak kan kalaupun ingin mengingatkan teman mestinya bisa dengan cara yang lebih nyaman dirasakan, bukan dengan mengumbar di khalayak yang berpotensi memalukan.  Apalagi kalaupun postingan itu dianggap salah,  kesalahan bukan pada isi laporan tapi pada kesan.  
Tapi sekali lagi ini pendapat versi saya.  Bila versi kawan-kawan beda ya itu halal-halal saja.  Dan sayapun menulis ini tidak secara khusus buat membantah siapapun.  Saya hanya ingin menyuguhkan pandangan yang berbeda saja.  Terserah yang membaca saja mau setuju atau tidak.  
Wallahu a’lam
*) foto bersama jurnalis pemkot Samarinda pak Budi dan Mas Doni.  Saat kunjungan ke Mahakam Ulu.  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *