Alhamdulillah, segala puji hanyalah milik Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hingga detik ini limpahan rahmat dan barokahNya senantiasa Dia berikan pada diri yang banyak salah dan aib ini. Semoga ampunan, kasih sayang dan keberkahan itu selalu Dia berikan hingga di kehidupan akhirat kelak.

Sahabat dan kerabat yang budiman, saat ini kondisi negeri kita tidak sedang baik-baik saja. Pandemi yang sudah berlangsung setengah tahun lebih, belum ada tanda-tanda akan berakhir. Bahkan jumlah orang yang terpapar virus corona meningkat pesat berkali-kali lipat dari awal pandemi dulu.

Kita tentu masih ingat di bulan-bulan awal, setiap diumumkan pertambahan kasus positif satu atau dua orang perhari, semua nenjadi heboh. Namun sekarang, bahkan dalam sehari hingga 90 orang positifpun media sosial biasa-biasa saja.

Memang dalam menghadapi ‘wabah’ ini banyak hak dilematis yang terjadi bagi pemerintah dan masyarakat. Disatu sisi tak lagi mengumumkan secara masif kasus covid cukup mengurangi kepanikan sehingga roda perekonomian perlahan membaik. Namun di lain sisi, banyak diantara kita yang akhirnya menjadi lalai dan abai akan protokol kesehatan. Seolah dikira corona sudah tidak ada, padahal tiap hari korban-korban terus berjatuhan baik dari kalangan masyarakat umum hingga pejabat dan orang kaya.

Kini tinggal kitanya saja yang harus terus mawas diri dan berupaya melindungi keluarga dan orang-orang terdekat kita. Karena transmisi lokal sudah sulit untuk dideteksi. Kita tidak tahu siapa diantara orang yang kita temui yang sudah terjangkit virus.

Selain karena informasi seputar covid yang tak segencar dulu, protokol kesehatan yang baru juga sudah tidak seketat dulu. Saat ini orang yang positif dengan gejala ringan atau tanpa gejala tidak lagi diisolasi sebagaimana waktu awal pandemi. Mereka hanya disuruh melakukan isolasi mandiri di rumah masing-masing. Hanya pasien yang gejalanya berat (parah) yang dirawat di rumah sakit. Itupun kabarnya saat ini rumah sakit-rumah sakit tempat perawatan covid rata-rata sudah sulit menerima pasien baru karena penuh.

Disinilah masalah baru muncul. Siapa yang bisa menjamin bahwa pasien yang melakukan isolasi mandiri bisa disiplin untuk tidak kemana-mana? Apalagi mereka merasa tidak sakit, karena kondisinya terlihat stabil saja. Bahkan tidak mustahil banyak diantara mereka yang berkeyakinan bahwa virus corona itu nggak ada.

Orang-orang yang berkeyakinan seperti ini tentu tak bakalan sudi dikurung dalam rumah. Lebih-lebih jika mereka selama ini bukan orang kaya yang memiliki cukup uang. Mereka juga harus tetap bekerja keluar rumah.

Melihat kondisi ini, sekali lagi semua terpulang kepada kehati-hatian kita dan persiapan menjaga imun tubuh agar tak tertular dari siapapun yang sudah tak bisa kita ketahui di sekeliling kita. Paling tidak kalaupun sampai akhirnya tak bisa menghindar lagi (na’udzubillah mindzalik) kondisi harus kita tetap stabil dan kuat hingga sembuh.

Maka, hanya ada dua pilihan utama sebagaimana yang dituntunkan agama, yakni berdoa dan berusaha. Kita tak henti-hentinya memohon kesehatan dan kekuatan kepada Dia Yang telah memberikan kehidupan ini kepada kita, lalu kita berikhtiar maksimal mencegah penularan virus yang tidak tampak oleh mata itu dengan melaksanakan protokol kesehatan.

Kita jalani kehidupan yang baru dengan aneka perubahan perilaku dari masa-masa sebelum pandemi. Kita taati protokol kesehatan atas kesadaran dan demi kepentingan kita sendiri. Bukan karena takut akan peraturan dan sangsi dari pemerintah.

Insya Allah semua bisa dilewati dengan baik dan selamat hingga berakhirnya pandemi ini. Wallahu a’lam.

Penjelajah Waktu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *