Sebuah Refleksi: Yang Terlihat Kaya Belum Tentu Bahagia

Orang jaman sekarang kebanyakan terlihat lebih sejahtera dari kondisi masyarakat saat saya remaja dulu. Lihat saja pakaian mereka bersih dan bagus, kendaraan mengkilap dan tipe terbaru, gadget di tangan merk mahal, makan serba di cafe atau rumah makan, main di mall dan tempat hiburan, malah tak sedikit yang jalan-jalan ke luar kota, pulau dan luar negeri sudah jadi kebiasaan. Bicaranyapun soal proyek puluhan milyar.

Namun bila kita selami kehidupan mereka (kita juga?) lebih dekat, ternyata soal sejahtera tak semua orang dengan gaya hidup ‘kaya’  memilikinya. Banyak diantara mereka yang ternyata hari-harinya tidak tenang. 

Ya, sejahtera tak semata soal makan enak, rumah dan kendaraan mewah atau atribut material lainnya. Malah indahnya tampilan dan gaya hidup itu sendiri tak menjamin ketercukupan materi yang sebenarnya. Karena boleh jadi itu hanya hasil berutang atau tipu sana-sini.

Apalagi bila standar kesejahteraan yang sesungguhnya kita maknai sebagai kondisi tercukupinya kebutuhan jasmani dan rohani, maka akan kita temui betapa banyak orang yang bergaya hidup mewah sebenarnya ia tidak sejahtera, bahkan mungkin sebenarnya ia sudah tak memiliki apa-apa. Hidup tak tenang dikejar utang, konflik dengan orang di mana-mana, rumah tangga selalu ribut dan lain sebagainya. 

Dulu… Kala saya masih anak-anak hingga remaja. Tinggal di kampung kecil yang bersahaja. Meski para tetangga hanya bernaung di gubuk kecil namun tidur mereka nyenyak, makan mereka nikmat. Hari-hari mereka damai bersama keluarga.

Padi di peti (kami tak punya lumbung namun tiap rumah punya peti besar penyimpan padi) berlimpah, ikan tinggal menangkap di sungai belakang rumah, mau makan sayur dan buah tinggal memetik di kebun. Kaki kami tak beralas, kotor belepotan lumpur sawah. Tubuh kami menghitam berdaki karena sering ke ladang. 

Namun kami hidup damai tanpa kejaran penagih hutang. Hari hari kami tentram bercanda dengan alam. Udara yang kami hirup penuh dengan oksigen segar tanpa beban stres aneka konflik kepentingan. 

Penampilan kami saat itu sangat miskin tanpa gaya dan kemewahan namun kami bahagia. Insya Allah. 

Wallahu a’lam

 

✍️ Abdillah Syafei 

Abdillah
Abdillah