Saya Sih Pilih yang Shaleh

Saya ini bukan ulama dan bukan orang yang shaleh. Tapi kalau soal memilih pemimpin maka saya pilih yang dalam pandangan saya orangnya shaleh. Karena saya yakin orang yang shaleh itu pasti takut kepada Allah, sayang kepada rakyat dan amanah dalam menjalankan tugas.

Pemimpin yang shaleh akan jujur, tidak khianat, serta tidak menjadikan jabatan sebagai alat untuk berbuat jahat. Ia akan transparan dalam memimpin, berorientasi pada kesejahteraan rakyat bukan kekayaan pribadi. Ia akan mempekerjakan orang (pejabat) karena kompetensi bukan karena nepotisme apalagi transaksi.

Pendek kata pemimpin yang shaleh pasti akan melaksanakan amanah yang dibebankan ke pundaknya dengan sebaik-baiknya. Kalau tidak melaksanakan amanah? Ya berarti dia tidak soleh dong… 😀

Meskipun diusung oleh kelompok politik yang mengklaim mewakili kubu agama, tapi kalau calon pemimpin tersebut tidak shaleh, apalagi akhlaknya buruk, maka saya tidak akan memilihnya. Biar seribu ulama menfatwakan wajib memilih orang tersebut, bila saya sendiri tahu dan memiliki banyak bukti bahwa yang bersangkutan buruk akhlaqnya dan tidak shaleh amaliahnya, maka mohon ampun dan maaf saya tak bisa mengikuti fatwa tersebut. 

Bukan karena saya tak taat dan tak hormat pada ulama, tapi karena saya tahu bahwa tidak semua ulama paham politik dan mengenal baik tokoh politik yang ada. Padahal dalam dunia politik karakter seseorang di ranah publik belum tentu sama dengan aslinya. Penilaian dan opini umum sangat dipengaruhi dengan penciteraan dan isu yang dimanfaatkan oleh kekuatan politik pengusung. 

Wallahu a’lam

Abdillah
Abdillah