Santun dan Lembut Bukan Berarti Mengalah Pada Kemungkaran

Hawa nafsu kita memang cenderung ingin bebas. Bebas berkata apa saja, bebas berbuat apa saja, bebas memaki siapa saja, bebas… bebas… bebas…!

Jujur saja, kalau mau memperturutkan perasaan, saya juga kepingin bebas memaki dan melontarkan cacian kepada orang-orang yang tak saya sukai. Namun apa daya, akhlaq agama melarang saya melakukannya. Hati nurani merasa sayang jika harus mengotori lisan maupun tulisan dengan kalimat kasar lagi ‘jorok’  yang tidak enak dirasakan oleh diri saya sendiri maupun oleh orang lain.

Bagi sebagian orang yang mengerti syari’at, yang sadar bahwa memperturutkan hawa nafsu itu buruk,  namun nafsu bengis yang ada di jiwa sedemikian besar minta disalurkan, kemungkinan ia akan mencari pembenaran atas perilaku itu. Ya, demikianlah tipu daya syaithan agar manusia bisa melakukan keburukan tanpa merasa bahwa itu keburukan. Dibungkuslah keburukan itu dengan pembenaran demi pembenaran.

Berkata kasar dibungkus dengan ungkapan ‘tegas terhadap kemungkaran’. Mencaci maki dibungkus dengan kalimat ‘mengingkari kesesatan’. Menyerang sesama dibungkus dengan alibi ‘melawan orang-orang dzalim’. Dan lain sebagainya “perkataan indah namun menipu” (zukhrufa qouli ghururan).

Ya, tegas terhadap kemungkaran adalah amal shalih. Mengingkari kesesatan adalah kewajiban. Melawan orang dzalim itu jihad fi sabilillah. Tapi amaliah mulia tersebut jangan dijadikan ‘kambing hitam’ untuk melegalkan tindakan buruk dan menyimpang hanya demi memuaskan nafsu amarah.

Bahkan saat melaksanakan amar makruf nahi munkar, melawan kedzaliman, berkata tegas terhadap kesesatan, tetaplah dilakukan dengan akhlaqul karimah. Rasulullah adalah teladan agung bagaimana kesantunan dan kelemah lembutan merupakan amal shalih yang penting. Memang hanya orang yang bisa mengendalikan dirinyalah yang bisa berkata lembut, sopan dan menyejukkan. 

Janganlah pula kita membuat syubhat dengan menisbatkan perilaku buruk, kasar dan beringasan kepada sahabat-sahabat yang mulia seperti Umar bin Khattab, misalnya. Mungkin saudaraku sekalian sering mendengar orang yang membela perilaku kasar mereka dengan mengatakan: “Keras seperti Umar bin Khattab.”

Astaghfirullahal ‘adzim… Umar bin Khattab memang tegas, namun beliau bukan manusia yang gemar berkata kasar. Beliau adalah sahabat istimewa yang berakhlaqul karimah. Beliau adalah manusia mulia yang santun dan penuh kasih sayang. Jangan samakan arti tegas dengan kasar dan beringasan.

Kelembutan hati dan sikap santun, sesungguhnya adalah ajaran Nabi dan para Sahabat. Akhlaq mereka sedemikian mulianya, hingga menjadi teladan indah sepanjang masa. Semua begitu ‘nikmat’ kala kita baca dalam shirah mereka. Laksana butiran permata yang berserakan, berkilau di sepanjang jalan sejarah.

Namun tentunya lembut dan santun jangan pula disalahfahami sebagai toleransi terhadap kejahatan dan berlemah-lemah dengan kemungkaran apalagi membiarkannya. Lembut dan santun adalah penegakan syari’at dengan cara yang baik, adil dan tidak melampaui batas.

Wallahu a’lam

JENDELA NURANI
(Abdillah Syafei)

30/12/2013

Abdillah
Abdillah