Kafilah yang melintas sahara tetap konsisten dengan perjalanannya untuk sampai ke ujung gurun. Kala badai menerpa ia berhenti dan merunduk, mengamankn diri dan barang bawaan. Kala udara cerah ia kembali melangkah berhati-hati hingga gelap menyelimuti.

Saat malam tiba, lolongan serigala menegakan bulu roma. Namun sang kafilah tak bergeming. Tak dihiraukannya lengkingan binatang malam dan gonggongan anjing liar. Ia lebih memilih menghangatkan diri dengan seonggok api unggun seraya menyeduh secangkir teh ataupun kopi. Kobaran api dan semburat sinarnya sekaligus mengusir binatang buas yang mungkin berkeliaran di kelamnya malam. 

Saat pagi merekah dan mentari tersenyum cerah, iapun melanjutkan langkah, meneruskan perjalanan. Begitu, yang dia lakoni sepanjang misi hingga sampai di kota tujuan.

Demikianlah gambaran diri kita dalam menjalani perjuangan hidup ini. Kadang badai menerpa, hujatan, hinaan bahkan gonggongan para pendengki mencoba menghambat langkah kita mengarungi medan juang. Maka kita harus pandai memilih sikap dan tidak terpancing untuk berbuat sia-sia.

Kita harus fokus dengan misi kita untuk sampai di akhir perjalanan dengan segar bugar. Selama kita berada di rute perjalanan yang benar, maka celaan, hinaan dan aneka gangguan para pendengki tidak akan menghambat langkah kita. Tak perlu dihiraukan hal-hal yang memang tidak penting.

Wallahu a’lam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *