Adalah sunnatullah bahwa manusia itu berbeda antara satu dengan lainnya.  Mulai dari perbedaan rupa/wajah hingga pilihan keyakinan. Hal inipun telah dijelaskan oleh Allah dalam banyak firmanNya. Maka menerima banyaknya perbedaan adalah sebuah keniscayaan. Dan perbedaan bukanlah alasan untuk saling menghina dan mencaci maki, apalagi membinasakan.

Rasulullah, manusia paling mulia di sisi Allah mencontohkan kepada kita bahkan perbedaan akidah dan kekafiran seseorang tak menyebabkan beliau membenarkan caci maki terhadap orang tersebut sebagaimana diceritakan dalam hadits:

Kepada Rasulullah Saw disarankan agar mengutuk orang-orang musyrik. Tetapi beliau menjawab: “Aku tidak diutus untuk (melontarkan) kutukan, tetapi sesungguhnya aku diutus sebagai (pembawa) rahmat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ya, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Salam, sang teladan agung itu mengajarkan kepada kita untuk menjadi rahmat bukan penebar kutukan dan caci maki. Inilah akhlaq Islam yang tinggi yang diajarkan oleh manusia terbaik di dunia ini. Dan bukankah belia merupakan teladan terbaik?

Anas Ra berkata, “Rasulullah Saw adalah orang yang paling baik, paling dermawan (murah tangan), dan paling berani”. (HR. Ahmad)

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:  “Sungguh telah ada bagi kalian pada diri Rasulullah suri teladan yang baik bagi orang yang berharap kepada Allah, hari akhir dan bagi orang yang banyak mengingat Allah.” (Al-Ahzab: 21)

Sayangnya banyak manusia yang tidak rela serta tidak siap menerima perbedaan tersebut. Ia marah saat orang lain tak seperti yang dia inginkan, padahal ia telah diberi kesempatan untuk ‘berdakwah’ merubah orang lain agar sama dengan dirinya.

Oleh karena itulah wahai saudaraku. Merubah orang lain agar sama dengan diri kita itu boleh, bahkan perjuangan untuk itu diwajibkan oleh agama kita. Sebagaimana firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 104: “Dan hendaklah ada di antara kamu, sebahagian yang mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran dan mereka yang bersifat demikian ialah orang-orang yang berjaya.”

Namun demikian semua itu hanya ikhtiar/usaha. Adapun bagaimana hasil akhir semuanya, benar-benar merupakan hak Allah subhanahu wa Ta’ala. Dia lah Sang Pemberi Hidayah. Keputusan dan ketetapan-Nya wajib untuk kita terima dengan ridho.

Boleh jadi belum samanya orang lain dengan diri kita justeru menjadi potensi ladang amal bagi kita untuk tetap berusaha. Bukankah dari usaha itulah nantinya kita dinilai dan diberikan balasan kebaikan?

Toh dunia ini  bukanlah kehidupan yang sebenarnya. Ia hanya tempat persinggahan sementara untuk kemudian kita menuju kehidupan yang sebenarnya lagi abadi. Di dunia ini yang paling penting adalah seberapa baik kelakuan kita.

Maha Suci Allah Yang di tangan-Nya lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.(QS.Al Mulk:1-2)

Ya, sejatinya kehidupan dan kematian hanyalah ujian bagi kita, siapa yang paling baik amalnya. Kita tak layak memaksakan pilihan hidup kepada orang lain karena Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Kuasa saja tak memaksa hamba-Nya untuk beriman. Yang penting setiap pilihan itu harus disertai kesiapan menerima konsekuensinya.

Tulisan ini bukan dimaksudkan untuk melemahkan Mar ma’ruf nahi munkar. Justeru saya ingin mengatakan bahwa dalam konteks Amar ma;ruf nahi munkar anjuran bahkan perintah untuk itu sangat tegas dan kuat. Namun di lain sisi saya ingin mengajak kita semua (termasuk diri saya juga tentunya) untuk selalu sabar, tabah dan tidak putus asa dalam berdakwah, Tidak menjadi orang yang ‘gelap mata’ manakala tujuan dakwah kita belum tercapai maksimal.

Adapun dalam konteks yang umum, terlepas dari soal agama sekalipun, sebagai manusia kita harus lapang dada menerima realita terjadinya perbedaan pendapat dan perbedaan pilihan dalam hidup. Artinya tidak hanya soal pilihan keyakinan, tapi juga soal-soal keduniawian yang tentu jauh lebih sepele dari agama dan keyakinan.

Apalagi bagi penebar faham-faham yang bertentagan dengan agama. Sebagai penebar ‘kesesatan’ lebih tidak layak lagi mereka ‘memaksa’ orang baik untuk mengikuti kesesatan mereka. Sungguh kurang ajar sekali jika mereka memaksa orang yang mengamalkan ajaran Allah dan Rasul-Nya untuk beralih menjadi pendosa sebagaimana mereka. Jika sekiranya mereka konsisten dan konsekuen dengan jargon mereka agar kita menghargai hak asasi mereka untuk bebas memilih jakan hidup. tentu para pengikut ‘jalan tuhan’ jauh lebih berhak untuk diakui eksistensinya.

Wallahu a’lam

06 Juli 2013
Abdillah Syafei

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *