Sabar Dalam Benar

JENDELA NURANI: Selayaknya, orang Islam yang baik selalu siap menerima perbedaan pendapat secara arif. Menerima realita perbedaan bukan berarti menyetujui pendapat yang berbeda dengan kita namun memahami bahwa ada kepala lain yang tidak sama dengan kita yang, (mungkin) harus kita luruskan dengan penuh kesabaran.

Yang jelas jikapun kita ingin menyampaikan kebenaran, sampaikanlah pula dengan cara yang benar. Janganlah kebenaran itu kita masukkan ke ‘comberan’ sebelum disampaikan kepada orang lain, karena yang tercium olehnya adalah bau comberan bukan rasa manis kebenaran itu sendiri.

Jangan jadikan kebebalan kawan diskusi sebagai pembenaran untuk kita berkata dzlim, mencaci dan memaki. Jadikanlah ‘kengeyelan’ dia sebagai sarana melatih kesabaran.  Jadikanlah ‘kengototan’ dan sikap arogan dia sebagai batu ujian bagi ketawadhu’an kita. Apalagi saat dia mulai menjawab argumen kita dengan kalimat makian, di situlah saatnya kita mendulang pahala seraya mengajari dia dengan memberim contoh bagaimana berakhlak mulia.

Adalah ketergesa-gesaan memvonis kadang menyebabkan tertutupnya pintu kerelaan, mempersulit diterimanya kebaikan dan kebenaran dan mematikan selera untuk mencicipi lebih banyak argumen logis yang kita berikan.

Wallahu a’lam

Abdillah
Abdillah