Berbeda pandangan dalam memahami ayat mutasyabihat, para ulama ahlussunnah wal Jama’ah dari kalangan salafus shalih sudah sejak dulu mengalaminya. Bahkan, misalnya antara ulama madzhab Hambali yang kemudian diikut oleh kalangan ‘wahabiyah’ dan ulama madzhab Syafi’i seperti Imam Nawawi dan Ibnu Hajar yang  kemudian diikuti oleh kebanyakan kalangan ‘aswaja’  asy’ariyah, terjadi pula perbedaan itu.
Namun ternyata perbedaan tersebut tidak sampai menyebabkan kebanyakan para ulama masa itu saling mengeluarkan mereka yang berbeda pendapat dari lingkup ‘keluarga besar’ Ahlussunnah Wal Jama’ah. Ini yang sering dilupakan oleh sebagian da’i kita di  jaman ini.
Coba perhatikan, bagaimana ulama berfaham asy’ariah seperti Ibnu Hajar dan lainnya tidak dianggap sesat sehingga kitab-kitab mereka masih tetap dipakai oleh mereka yang berfaham wahabi sekalipun.
Namun ternyata pada mereka yang menyebut diri mereka bermanhaj salaf, vonis sesat terhadap kelompok pengikut  asy’ariah sedemikian terasa belakangan ini. Aneka artikel dan video yang disebar di internet, vonis sesat ini disebar sedemikian jelas. Cari saja di google, kita akan menemukan banyak hasil pencarian dengan tema kesesatan faham asy’ariah.
Mungkin pada beberapa kitab yang ditulis oleh ulama asy’ariyah juga ada penilaian seperti itu, yakni tuduhan sesat atau menyimpang kepada sebagian paham kaum wahabiyah namun kurang terdengar menggema karena semua itu rata-rata berupa ulasan dalam kitab-kitab ilmiah. Adapun di forum-forum umum jarang sekali ulama aswaja (asy’ariyah) melontarkan vonis sesat itu.
Berbeda dengan kalangan salafi (wahabi) yang mana budaya tahzir (peringatan umum) memang sudah biasa dilakukan sehingga jangankan kelompok Asy’ariah yang mereka anggap “ahli bid’ah”, kepada sesama wahabi pun tahzir dan serangan secara frontal teramat sering terjadi. Akibatnya, begitu gampangnya ulama-ulama mereka menebar fatwa sesat atau menyimpang terhadap ulama maupun kelompok, baik kelompok di dalam lebih-lebih diluar mereka.
Kondisi seperti ini mungkin bagi sebagian orang dianggap bagus karena terkesan bahwa para ulama dan da’i tersebut adalah orang-orang yang tegas dalam dakwah dan tidak berlemah-lemah terhadap kesesatan. Namun bagi orang lain, sikap gampang menebar vonis sesat tersebut adalah  sikap gegabah yang selain memecah belah persatuan umat juga mengandung konsekuensi yang berat secara hukum syara’.
Di Indonesia misalkan. Da’i-da’i salafi link Rodja dan Yufid seperti Ust. Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Abdul Hakim Abdat, Ryadh Bajrey dan lainnya adalah contoh para Ustadz yang cukup lantang dalam memvonis sesat kepada jamaah di luar mereka. Mulai persoalan aqidah asy’ariah, hingga masalah fiqih seperti Qunut Subuh saja mereka sedemikian kokoh mempertahankan pendapat dalam menyalahkan jamaah lain yang tak sefaham.
Makanya setelah keluar buku “Mulia dengan Manhaj Salaf” (MDMS) yang ditulis oleh Yazid Jawas, dimana dalam buku tersebut faham asy’ariah dimasukan sebagai faham sesat/menyimpang, reaksi keras datang dari  kelompok aswaja, terutama dari Imam Besar FPI, Habib Rizieq Shihab. Habib Rizieq yang selama ini sebenarnya tidak terlalu berminat membahas persoalan kelompok Islam ini mau tidak mau menyampaikan beberapa ceramah yang berisi bantahan sekaligus juga menelanjangi kesalahan kelompok ‘salafi’ ini.
Alhasil, perang opini di media sosial dan internet lainya menjadi agak berimbang. Dimana jika sebelumnya kita hanya bisa menemui tahzir dari sesama kelompok salafi dan salafi kepada jamaah di luar mereka, maka saat ini kita juga akan dengan mudah menemukan bantahan bahkan “serangan balik” dari kelompok-kelompok yang dulu disesat-sesatkan oleh kaum salafi.
Dari kalangan pengikut aswaja (asy’ariah) selain Habib Rizieq, juga ada Buya Yahya dan Ust. Idrus Ramli yang secara khusus membantah tuduhan-tuduhan dari kalangan salafi yang selama beberapa tahun begitu masif dan nyaris tanpa perlawanan.
Kondisi ini disatu sisi membuat pertentangan antara kedua kelompok semakin meruncing. Namun di sisi lain, dengan tersebar luasnya argumen-argumen semua pihak, menyebabkan banyak kaum muslimin baik dari kalangan salafi maupun aswaja menjadi terbuka wawasannya. Mereka jadi tahu bahwa ada argumen lain dari kelompok yang dituduh sesat atau menyimpang. Dan bahwa para ulama salaf ternyata juga berbeda pendapat dalam hal yang selama ini mereka kira sepakat.
Dari kalangan salafi mulai banyak yang sadar bahwa ternyata tuduhan da’i mereka kepada kalangan Aswaja selama ini tak seluruhnya tepat. Beberapa vonis yang terlihat pasti ternyata adalah perkara ikhtilaf ijtihadiyah yang  sejak jaman sahabat dan ulama salaf sudah ada. Demikian pula dari kalangan Aswaja yang selama ini menyangka bahwa manhaj salaf sama dengan khawarij dan kelompok ekstrim lain yang takfiri, ternyata juga kurang tepat.
Maka kemudian dari masing-masing kubu lahir begitu banyak da’i dan jamaah yang bisa bersikap lebih moderat. Mereka dengan rela hati meninggalkan ego kelompok dan mengutamakan ukhuwah Islamiyah. Mereka menyadari bahwa apa yang saat ini diperselisihkan adalah hal yang sudah diperselisihkan oleh sahabat dan ulama salafus shalih sejak ribuan tahun lalu.
Para tokoh dari kubu-kubu pengaku ahlussunnah wal Jamaah tersebut perlahan namun pasti saling menjalin komunikasi dan mengokohkan tali persaudaraan. Awalnya terkesan diam-diam sehingga berpotensi dituduh “pengkhianat manhaj” oleh kelompok masing-masing.
Namun dengan semakin mengkristalnya kesadaran dan keberanian, ditambah banyaknya “musuh bersama” yang harus dihadapi dengan modal persatuan, umat Islam akhirnya tak malu-malu lagi mengambil sikap. Demi agama Allah, mereka tak perduli tahzir dan celaan.  Kejahatan kaum kafir dan kaum munafiq begitu nyata di depan mata untuk dihadapi.
Dan bisa dibilang puncak dari persatuan umat ini adalah rangkaian AKSI BELA ISLAM beberapa waktu lalu. Aneka bendera ormas dan aneka kelompok kajian membaur dalam semangat persatuan yang tulus. Titik kulminasi aksi 212 menjadi momentum yang sangat indah dipandang dengan mata keimanan. Para ulama aswaja dan ‘wahabi’ satu suara dalam membela agama.
Kita tak memungkiri, memang masih ada bagian dari kelompok-kelompok itu yang ‘tercecer’ dalam kekerasan pendirian mereka. Itu merupakan hal yang wajar. Bahkan mereka dengan aneka perkataan dan pernyataannya kian gencar melakukan menolakan terhadap sikap banyak umat Islam yang memilih bersatu demi agama ini.
Boleh jadi akan muncul celaan dengan mengatakan bahwa persatuan aneka warna ormas dan kelompok ini hanyalah “persatuan” kebon binatang yang ujung-ujungnya juga cakar-cakaran. Bisa saja akan ada fatwa mereka yang memberikan “legitimasi” kepada penguasa untuk menganggap gerakan umat Islam sebagai gerakan bughot (makar) dimana konsekuensinya boleh ditumbahkannya darah mereka. na’udzubillah min dzalik.
Dan boleh jadi akan muncul gerakan-gerakan lain yang ingin menggerogoti keyakinan umat Islam yang saat ini sudah rela bersatu. Namun percayalah bahwa itu memang konsekuensi dalam perjuangan membela agama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jika kita membaca sejarah perjuangan Rasulullah, saat itu juga ada kelompok umat yang mengaku muslim namun kerjaannya adalah ‘menggembosi’ persatuan kaum muslimin.
Dan jangan dilupakan pula bahwa sebenarnya juga ada kelompok salafi yang jauh lebih ekstrim dari kelompok Rodja. Mereka yang selama ini juga mentahzir Rodja dan linknya. Hanya saja kelompok ini terkesan lebih pandai “bertaqiyah”. Mereka keras kepada sesama salafi dan total menyesatkan kelompok luar (aswaja) namun dengan sikap dakwah mereka yang tertutup serta “mengharamkan” penggunaan media sosial, mereka relatif lebih aman dari serangan balik dari kaum aswaja.
Berbeda dengan kelompok Rodja yang begitu terbuka dalam penyampaian kepada masyarakat umum, kelompok salafi ekstrim yang mayoritas pembesarnya adalah alumni Laskar Jihad ini hanya (baca:lebih banyak) melakukan ‘caci maki kepada kelompok lain dalam majelis mereka sendiri. Secara zahir kadang mereka bersikap santun kepada orang-orang aswaja, padahal secara intern caci maki mereka terhadap aswaja jauh lebih dahsyat dari ‘Rodja’.
Dengan strategi ‘taqiyah’ ala kokohiyun (demikian biasa mereka digelari oleh kelompok salafi lain) mereka bisa menggelar kajian di masjid yang secara pemahaman sebenarnya bertolak belakang dengan mereka. Di Islamic Center Kaltim, misalnya. Salafi ekstrim ini bisa dengan tenang melakukan kajian bulanan secara rutin. Padahal takmir dan pengurus Islamic Center sendiri rata-rata adalah kaum asy’ariah. ANEH dan LUAR BIASA..!
Nah, terlepas dari keberadaan kelompok-kelompok “garis keras tersebut, kita selaku umat Islam yang memahami realita, harus terus mengokohkan persatuan umat yang sudah terjadi saat ini. Kita tentu tak mungkin berharap bahwa semua umat satu suara namun paling tidak persatuan yang sudah ada dan dibuktikan dalam beberapa kali aksi kemarin harus dijaga semangatnya.
Yang harus kita lakukan sekarang adalah terus berdakwah menyadarkan umat dan membantah aneka syubhat yang mereka tebarkan. Kajian di majelis masing-masing harus terus digalakkan, terutama pembahasan menyangkut perkara-perkara ikhtilafiyah ijtihadiah yang selama ini banyak ditutupi.
Jika selama ini kita terbiasa membahas persoalan ikhtilaf hanya dari sudut pandang kelompok atau madzhab kita, maka alangkah baiknya kita juga jujur mengungkapkan akan adanya pendapat lain dari kalangan salafus shalih yang kebetulan saja bukan pilihan kita. Tujuannya bukan supaya jamaah kita mengikuti pendapat lain tersebut, namun supaya mereka tahu bahwa ada saudaranya sesama ahlussunnah wal jama’ah yang berpendapat beda dari kita, dan mereka juga mengikut salafus shalih.
Wallahu a’lam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *