Saat Diuji Dengan Kekurangan

Kekurangan harta adalah salah satu ujian yang paling ditakuti manusia. Ya, karena kekurangan harta bisa berdampak pada kesusahan lainnya. Banyak hal yang tidak bisa terlaksana karena tidak ada biaya, bahkan kehormatan kita di mata manusiapun bisa merosot karena ketidak mampuan memenuhi beberapa kebutuhan bahkan gengsi dan penampilan. 
Namun sebenarnya kekurangan harta juga kadang bisa menjadi alat bagi anda untuk melihat ketulusan dan kebaikan pertemanan dan persaudaraan. Saat anda berlebihan harta dan kaya raya, anda belum bisa memastikan siapa diantara orang yang mengaku sahabat dan kerabat yang benar-benar tulus menyayangi dan loyal terhadap diri anda. Anda belum bisa membedakan dengan jelas siapa yang bersahabat tulus dengan yang hanya menjilat dan mencari kesempatan turut menikmati ‘kesuksesan’ anda. 

Maka, terkadang ada hikmahnya juga episode ‘sempit’ dalam perjalanan kehidupan anda. Terlepas apakah itu ujian untuk menempa keimanan ataukah hukuman atas kesalahan muamalah anda selama ini, paling tidak dengan ‘kesusahan’ itu anda akan dibersihkan dari ‘benalu’ yang selama ini hanya mengambil keuntungan dari diri anda. Sahabat dan keluarga aka tersortir secara alami. Karena saat anda susah, akan anda lihat siapa yang menjauh pergi dan tak perduli dan mana yang tetap mensuport anda baik secara riil dengan materi maupun  -yang karena sama-sama tak mampu- ia tetap mendukung secara moril. 
Sebagai pribadi yang beriman, anda mau tidak mau, suka atau tidak suka, hanya memiliki pilihan untuk bersabar seraya mempergiat ikhtiar agar ada perbaikan kondisi. Ya, bersabar atas ‘kehinaan’ yang menimpa diri karena kekurangan materi, bersabar saat ditinggalkan dan seorang diri, bersabar membangun puing-puing ekonomi agar menjadi istana kesejahteraan lagi. 
Juga bersabar menjalani ikhtiar setahap demi setahap. Bersabar merasakan kerja keras lagi. Dan terus bersabar dalam menjaga diri agar tak terjerumus pada perbuatan haram dan keji. Insya Allah.. Kesabaran inilah yang akan membawa kebangkitan anda menuju sukses. Dan sukses yang diraih dengan kesabaran akan jutaan kali lebih nikmat dibanding tanpa perjuangan sama sekali. 
Semoga Allah meneguhkan hati anda, saya dan kita semua yang saat ini tengah berjuang memperbaiki diri, ekonomi atau apapun yang tengah ‘menurun’ dari kehidupan kita. Karena setiap kita yang masih bernafas dan masih bernama manusia, niscaya akan selalu memiliki urusan dalam kehidupan ini. Dan hanya sabar, syukur dan qana’ah lah yang membuat segala perjuangan itu menjadi bermakna serta sangat tinggi nilainya. 
Wallahu a’lam
Abdillah
Abdillah