Pilihan Para Ayah Ketika Susah



“Iya bu… Nanti sore insya Allah aku pulang bawa uang,” sahut seorang suami kepada istrinya. Sambil tersenyum ia melangkahkan kaki ke halaman, menjalankan motornya lalu meluncur di ramainya jalanan kota. 
Belum berapa puluh meter, senyum teduh di wajahnya sudah berganti dengan kerut besar di kening dan tatap mata kosong. Gundah menggunung mengganjal dadanya. Ya, kesulitan ekonomi ini menjadi beban berat yang menekan hidupnya.

Di tempat lain, seorang ayah juga mengalami hal yang tak jauh beda. Uang sekolah anaknya harus dibayar. Cicilan kredit motor sudah berulang kali ditagih pihak lising. Listrik belum dibayar. Susu si kecil juga sudah beberapa hari habis.
Entah ada berapa juta ayah yang mengalami ini…. Konflik batin, tekanan hidup dan kesulitan ekonomi melilit banyak keluarga. Dan ayah, adalah orang pertama yang harus bertanggunh jawab atas banyak nyawa manusia di rumahnya.
Mungkin banyak diantara mereka yang tidak bekerja atau kena PHK. Atau ada yang bekerja, namun hasilnya sudah tak mencukupi kebutuhan lagi. Harga segala hal (tak hanya kebutuhan pokok saja) melambung tinggi. Sementara, kadang gaya dan tuntutan hidup juga tak kalah pesat, ikut meningkat.
Sebagian ayah, mungkin terpaksa ‘tega’ dengan pulang ke rumah tanpa membawa apa-apa. Terpaksa tabah mendengar rengekan pedih anak dan omelan pedas istri. Biarlah ditelan kepahitan itu daripada harus mempersembahkan rejeki dari jalan yang haram.
Namun tak sedikit pula ayah yang tak kuat hati, lalu memaksa diri melawan nurani dan terjerumus dalam usaha yang keji demi menyenangkan ‘buah hati’. Dengan dalih terpaksa dan tak punya pilihan lain, lalu menipu, mencuri, mengambil hak orang lain.  Nurani sementara dibunuh, empati sementara dibuang, dan tega terpaksa di pasang agar bisa pulang ke rumah sebagai ‘pahlawan’.
Padahal terkadang jalan inipun tak kecil resikonya. Tak mustahil seorang ayah yang memaksa dirinya menjadi jambret (misalnya), tanpa belas kasihan membahayakan nyawa orang lain, dan (sesungguhnya) juga sangat membahayakan dirinya sendiri. Tak mustahil uang yang diharapkan dan sambutan tawa anak dan istri, justeru menjadi memar dan luka dan disambut tangis pilu mereka.
Demikian pula jalan hitam yang lain.
Inilah realita… Ada orang yang ujian dan cobaan dihadapinya dengan ketabahan. Sehingga dalam kebingungan yang separah apapun dia tak sudi berpaling dari jalan Tuhan. Harga diri dia adalah ketika ia istiqomah dalam kebaikan dan kebenaran. Sementara di lain pihak ada pula sebagian manusia yang memilih terjermus ke jurang hina, hanya demi memperjuangkan harga diri semu dan kebahagiaan palsu. Derita dan beban hidup membuat dia tak berdaya di hadapan godaan kejahatan yang merayu.
Semoga kita dijadikan sebagai ayah yang tak goyah. Semoga rengekan anak dan keluhan istri serta aneka tekanan ekonomi tak membuat kita kehilangan harga diri sejati. Yakni harga diri seorang yang beriman. Yang meyakini bahwa karunia Allah masih terbuka lebar, membentang luas di hadapan kehidupan kita.
Jikapun harus lapar, laparlah dalam keadaan ibadah. Jikapun harus dihina dan dicaci oleh keluarga, biarlah asal tak dicaci Rabb kita. Jikapun orang di sekeliling harus meninggalkanmu karena kemiskinanmu, itu lebih bagus daripada Allah marah karena kedurhakaanmu.
Percayalah, kesempitan tak selamanya, ujian pasti berlalu. Dan ujian itu akan menjadi alat seleksi, mana manusia yang bermutu dan manusia yang rendah imannya.
ISTIQOMAH lah..!!!
Abdillah
Abdillah