“Sesungguhnya ada seorang hamba berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dia pikirkan lalu Allah mengangkat derajatnya disebabkan perkataannya itu. Dan ada juga seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang membuat Allah murka dan tidak pernah dipikirkan bahayanya lalu dia dilemparkan ke dalam jahannam.”

Demikian bunyi hadits Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam yang begitu mendalam dihayati oleh pecinta beliau. Ya, kalau kita mengaku pecinta Rasulullah, maka ungkapan beliau akan membekas dalam sanubari kita. 

Bila ungkapan itu berisi janji dan motivasi, maka kita akan sangat bersemangat mengerjakannya. Segala upaya akan diusahakan demi melaksanakan apa yang beliau anjurkan.

Demikian pula sebaliknya, bila beliau memperingatkan tentang bahayanya sesuatu, apalagi sampai memberikan ancaman maka kitapun akan sangat takut dan tak berani coba-coba menentang peringatan Rasulullah.

Termasuk tentunya apa yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari di atas, sungguh merupakan hal yang teramat penting untuk kita perhatikan. Tersurat peringatan supaya kita berhati-hati dalam berucap.

Kadang ada hal yang terasa ringan dan gampang diucapkan namun ternyata Allah sangat mencintainya sehingga kita dimuliakan karena sebab ucapan itu. Namun Rasulullah juga menginformasikan bahwa ada ucapan yang terkesan ringan dan sepele, namun celakanya malah bisa membinasakan orang yang mengucapkannya.

Artinya, kita harus selalu berpikir secermat mungkin sebelum mengucapkan perkataan. Kita harus pandai memilih ucapan mana yang baik dan ucapan mana yang mencelakakan.

Dalam konteks media modern saat ini tentu saja termasuk dalam kita membuat (menulis) postingan di media sosial. Karena media sosial juga merupakan alat komunikasi yang menghubungkan satu individu dengan individu lainnya, maka memilih ungkapan yang baik adalah sebuah kewajiban. Jangan sampai gara-gara ungkapan yang dianggap ringan, atau terkesan hanya sebagai candaan bisa menyakiti perasaan sesama manusia, bahkan bisa mendatangkan kemurkaan Allah Subhanahu wa ta’ala. Na’udzubillahi min dzalik.

Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *