Perjalanan ke Mahakam Ulu

 
Bubuhan Kominfo kota Samarinda, dengan “Peralatan Perang” siap bertugas ke “medan juang” hingga pedalaman Mahakam. Peluh dan keringat, debu dan daki yang pekat tak membuat kami kehilangan rasa gembira, hingga senyum di wajah tetap memikat. 😀

Selasa 22 Oktober 2019, Jam 10 siang:

Dari Samarinda kami menempuh waktu sekitar 7 sampai 8 jam untuk sampai di kota Melak Kutai Barat. Teman yang bukan pemabok (mudah mabok kalau naik kendaraan) saja kelelahan, apalagi saya yang meski telah minum antimo tetap pusing kepala. Tiba di Melak sudah sekitar pukul 21 malam.

Kami langsung menuju penginapan, meletakkan barang bawaan, lalu mencari warung untuk makan malam. Karena hari sudah larut, seusai makan kamipun langsung kembali ke penginapan Flamboyan yang tadi sudah kami datangi untuk chekin.

Hanya semalam kami menginap di kota tepi sungai ini, pagi-pagi sekali sudah naik mobil lagi sekitar 1,5 jam ke kampung Tering. Di sini ada pelabuhan yang akan mengalihkan alat transportasi kami dari mobil ke speedboat.

Rabu 23 Oktober 2019

Baru saja mau sarapan di pelabuhan tering, terpaksa kami melaju ke Mahakam Ulu dengan perut kosong karena speedboat yang membawa rombongan pemerintah kota Samarinda sudah akan berangkat. Walhasil sekitar 4 jam kami terguncang-guncang sambil ‘makan angin’.

Ya, tidak kurang dari 4 jam kami terguncang keras di permukaan sungai Mahakam yang tengah surut. Tampak banyak karangan (sebutan orang tanah hulu untuk pulau yang muncul di sungai karena air sangat surut) di sepanjang perjalanan. Sebagiannya ada warga yang sedang menambang emas secara tradisional.

Terlihat juga kapal- kapal besar yang biasa berlayar ke ulu Mahakampun tampak tetambat di beberapa lokasi. Tampaknya mereka tidak bisa meneruskan perjalanannya ke udik. Kalau memaksakan diri, kemungkinan besar kapal akan kandas. Kalau sudah kandas akan lebih ribet lagi urusannya.

Alhamdulillah, meski sedikit pusing karena (mungkin) masuk angin, tengah hari kami sampai di kecamatan Ujoh Bilang, ibu kotanya Kabupaten Mahakam Ulun dalam keadaan sehat wal afiat. Kondisi tidak sampai ngedrop.

Mencari penginapan, tempat makan halal dan melihat-lihat kondisi ‘kampung’ yang indah di tepian Mahakam, kami kemudian bisa agak bersantai melepas lelah hingga menjelang magrib.
Malamnya mengikuti rombongan walikota Samarinda untuk menghadiri jamuan makan yang diadakan oleh Bupati Mahakam Ulu. Acara berjalan meriah hingga cukup larut malam. Setelah itu tidur dengan nyenak karena kecapekan.

Kamis, 24 Oktober 2019:

Hari masih pagi, mungkin sekitar pukul 7 atau 8 seusai sarapan kami sudah berkumpul di pelabuhan. Kembali dengan peralatan tempur lengkap kami menunggu walikota dan para pejabat untuk berangkat ke daerah Long Pahangai. Rencananya robongan mengunjungi beberapa lokasi air terjun dan riam.

Tak ketinggalan serombongan pengarung jeram profesional mengawal para peserta. Mereka membawa peralatan lengkap. Mulai dari pakaian, jaket, pelampung, dayung, kayak, perahu karet dan lainnya. Antara 3 sampai 4 jam kembali terguncang-guncang di atas speedboat melaju ke ulu.
Kali ini kondisi saya yang sebenarnya sudah mulai nyaman setelah beristirahat malam tadi kembali pusing. Bahkan kepala semakin sakit akibat mabok karena guncangan. Tidak seperti perjalanan dari Tering ke Ujoh Bilang kemarin, kali ini perjalanan lebih berat karena melewati sungai yang agak sempit dengan air yang lebih deras. Speedboad pun jalannya tidak lagi lurus, tapi berbelok-belok diantara batu-batu besar.

Dan Alhamdulillah sakit kepala saya agak berkurang ketika telah berada di tempat-tempat yang indah di pedalaman Mahakam ini. Apalagi setelah bisa merendam kaki dan mencuci muka di sejuknya air di lokasi air terjun Kemenehek Long Pahangai. Sempat pula kami diajak foto-foto oleh pak Walikota.
“Masak tukang foto tidak ada fotonya, ” demikian kurang lebih yang beliu sampaikan.

Setelah semua target kunjunan telah didatangi, saatnyalah kami kembali ke Ujoh Bilang, karena rencananya rombongan akan menghadiri acara pembukaan festival Hudoq sekaligus malam harinya ada pemecahan rekor MURI tarian Hudoq 24 jam nonstop.

Selama perjalana kondisi saya benar-benar sangat drop, kepala sangat sakit dan perut juga mual melilit. Sampai-sampai saya mengira bahwa akan pingsan di perjalanan sebelum kembali ke penginapan di Ujoh Bilang.

Apagi, entah di daerah mana saya juga tidak tahu, rombongan berhenti untuk makan siang. Saya tidak ikut makan, hanya minum air kemasan, karena takut malah muntah.

Selesai makan ternyata rombongan belum juga berngkat. Rupanya pak Walikota ditantang oleh teman-teman untuk menjala ikan. Dengan percaya diri anak tanah hulu ini melayani tantangan ini.
Meski tadi di daerah jeram beliau gagal mendapatkan ikan, namun kali ini nasib mujur rupanya sedang berpihak, setiap lemparan jala yang dilakukannya selalu mendapatkan ikan yang banyak.
Tampak sekali wajah puas semua yang hadir saat itu. Saya sendiri yang sedang dalam kondisi ‘teler’ saja tidak bisa menyembunyikan kegembiraan. Kami semua tertawa senang melihat banyak ikan yang menyangkut di jala pak Jaang.

Dan lebih gelak lagu kami tertawa saat menyaksikan pak Syaharie Jaang tercebur ke sungai lantaran terseret oleh beratnya jala yang dilemparkan.

😁 Mohon Ampun dan Maaf pak Wali 😁

Setelah dapat banyak ikan dan diperingatkan oleh nggota rombongan bahwa waktunya acara pembukaan festival Hudoq sudah mepet, barulah beliau berhenti menjala. Dan kamipun kembali meluncur menuju Ujoh Bilang.

Betul saja, sampai di Ujoh Bilang, waktu sudah menunjukkan pukul 14 lewat. Saya sendiri langsung menuju penginapan, shalat dan beristirahat sampai sore hari. Terpaksa tidak bisa ikut acara demi memulihkan kondisi.

Alhamdulillah malamnya saya sudah bisa turut hadir ke tempat acara pemecahan Rekor MURI. Hingga sekitar jam 12 malam kami melakukan tugas liputan baru balik lagi ke penginapan. Tapi dua jurnalis kominfo Doni Ariwardana dan Ferdi terus mengawal pak wali hingga beliu juga balik ke penginapan.

Jum’at 25 Oktober 2019

Pagi seusai sarapan kami sudah berjaga di pelabuhan Ujoh Bilang. Kami harus sudah bersiap sebelum rombongan tiba di sini untuk pulang ke Samarinda.

Pelepasan rombonganpun diakukan oleh teman-teman Mahakam Ulu dengan penuh haru. Bapak Walikota dan istri berpamitan dengan para tokoh yang mengantarkan kami sampai ke pelabuhan ini. Setelah itu iring-iringan speedboat seakan bergegas, mengantarkan kami menuju pelabuhan Tering Kutai Barat.

Di perjalanan pulang kali ini kondisi saya sudah jauh lebih baik dari kemarin. Selain kondisi air yang memang lebih nyaman saat milir, speedboat yang kami tumpangi juga agak sedikit penumpangnya sehingga lebih lega terasa.

Sebelum sampai di Tering, namun sudah masuk wilayah Kutai Barat, pak Jaang menyempatkan diri untuk berziarah ke makam salah seorang da’i penyebar Islam di pedalaman Mahakam. Beliu adalah Syekh Abdu Manan bin Syekh Abdullah yang wafat di desa Sirau Kutai Barat tahun 1778.

Di sini beliu sempat menasihati kami agar selalu hormat kepada aulia, ulama dan habaib baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Menurut beliau, menziarahi makam ulama, selain bisa mengingatkan kita akan hakikat kehidupan yang tidak abadi, juga menjadi sarana kita buat meneladani kebaikan para ulama tersebut. Bagaimana kebaikan mereka terus ‘abadi’ baik ketika hidup maupun telah meninggal dunia.

Setelah berziarah, kami melanjutkan kembali perjalanan ke Tering. Dari pelabuhan ini rombongan beralih menggunakan mobil kembali. Kali ini tidak semua mobil beriringan, sebagian orang mungkin punya agenda lain. Hanya beberapa mobil, termasuk mobil walikota yang ‘konvoi’ menuju Samarinda.

Tim Kominfo sendiri memiliki agenda di tanggal 26 ini untuk mengunjungi beberapa tempat bersejarah yang pernah tercatat dan memiliki banyak cerita dalam kehidupan bapak Syaharie Jaang. Bagi saya sendiri sebagai seorang penulis, ini penting guna mendapatkan gambaran sedetil mungkin tentang bagaimana kondisi disana. Sehingga diharapkan saya bisa memvisualisasikannya dalam bentuk narasi yang lebih mendekati kenyataan.

Insya Allah
😍

Abdillah
Abdillah