Pengkhianatan Terhadap Salafus Shalih

Manhaj salaf itu harusnya disampaikan seutuhnya, selengkapnya, sekomplitnya, termasuk aneka perbedaan ijtihad yang ada di dalamnya. Kalau hanya sebagian saja yang sesuai selera lalu menutupi realita adanya pendapat dan madzhab yang beragam, itu namanya bukan manhaj salaf tapi manhaj kalap.
Manhaj salaf itu jujur dalam menyampaikan kebenaran. Tidak mendustai umat dengan manipulasi agar terkesan pendapat madzhabnya saja yang ada dan benar, sedangkan selainnya dianggap salah bahkan sesat. 
Seribu kali menyebut diri dan kelompok kita bermanhaj salaf, jika faktanya yang terjadi adalah menghakimi ijtihad para ulama salaf sendiri, jelas itu adalah pembodohan dan penipuan. Itu adalah kecurangan yang pasti menyesatkan, dan merupakan pengkhianatan besar terhadap salafus shalih. 
Mengapa? Karena menyampaikan sebagian dan menutupi sebagian (besar) yang lain, akan membuat umat salahfaham terhadap manhaj mulia ini. Akibatnya umat yang dibinanya menyangka hanya amaliah mereka yang sesuai manhaj salaf sedangkan yang lain sesat. 
Contohnya dalam amaliah, ulama salafusshalih jelas berbeda pendapat soal Qunut Subuh, namun ada saja yang mengaku menyampaikan manhaj salaf memvonis Qunut subuh adalah mutlak bid’ah, pelakunya dicap ahli bid’ah.  
Soal isbal apakah haram mutlak ataukah hanya kalau sombong? Jelas ulama salaf beda pendapat. Namun banyak ustadz yang katanya mendakwahkan manhaj salaf ngotot bahwa isbal itu haram secara mutlak. 
Soal membaca “sayidina” juga, jelas-jelas ada riwayat bahwa sebagian sahabat membaca shalawat dengan tambahan kata “sayidina” namun  malah ada ustadz yang katanya bermanhaj salaf menuduh sayidina itu tidak ada tuntunannya bahkan dianggap merendahkan kemuliaan Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa salam. 
Dan masih teramat banyak penipuan lain yang dilakukan  oleh sebagian da’i yang katanya bermanhaj salaf, namun sesungguhnya mereka “mengkhianati” generasi salafus shalih. Mereka menyembunyikan  banyak amaliyah dan pendapat ulama salaf, lalu mereka melabeli pendapatnya sendiri saja sebagai manhaj salaf sedang yang lain manhaj bid’ah, padahal amalan salafus shalih juga. 
Kita boleh, bahkan wajar memiliki sikap hukum untuk memilih salah satu dari keragaman pendapat ulama salafus shalih. Namu  kita tidak boleh mengingkari akan adanya pendapat yang (kebetulan) bukan pilihan kita sendiri. Kita wajib untuk berlaku jujur. 
Wallahu musta’an
Abdillah
Abdillah