Pengalaman Saya di Dunia Media

Saya aktif menjadi jurnalis sejak tahun 90-an dan resmi menjadi redaktur koran harian sejak tahu 2000-an. Selain itu saya dipercaya menjadi redaktur di banyak penerbitan berkala (majalah/tabloid). Jadi kalai bicara pengalaman, sudah lebih dari 20 tahun saya terjun di media.

Saya faham betul bahwa hanya dengan menjadi wartawa murni seorang akan sangat sulit (bahkan mustahil) bisa hidup kaya. Namun saya juga sangat faham bahwa dengan modal profesi wartawan, kita juga bisa menjadi orang kaya dalam waktu singkat bahkan mendadak asalkan mau ‘berselingkuh’ dengan kejahatan. Baik itu kejahatan politik, hukum, hingga menjadi makelar kasus.

Namun saya sangat salut, bahwa tidak sedikit para senior maupun yunior saya yang tetap dengan idealismenya memberitakan kebenaran dan kejujuran. Secara umum cukup mudah menandai orang-orang yang (insya Allah) jujur seperti ini. Biasanya mereka sudah lama menjadi wartawan namun kehidupannya tetap saja pas-pasan. Kendaraan butut, rumah kecil bahkan banyak yang masih ngontrak dan tak terlalu sering gaul sama pejabat dan pengusaha.

Adapun mereka yang suka ‘bermain api’, biasanya terlihat dari gaya, penampilan dan fasilitas hidup yang dimiliki. Baru beberapa tahun jadi jurnalis, ekpnominya sudah melonjak ratusan kali. Gaulnya pun mendadak dengan kalangan elit.

Ya, memang tal selalu begitu. Artinya jika ada wartawan yang nggak kaya-kaya belum tentu juga semua karena ia jujur. Ada juga yang memang karena nggak pandai mencari peluang usaha sampingan. Demikian pula sebaliknya, yang awalnya miskin kemudian berkembang pesat hingga jadi orang kaya, bisa saja karena dia punya usaha sampingan atau dapat warisan. Namun biasanya yang seperti ini jumlahnya minoritas.

Dan yang paling ‘celaka’ adalah jurnalis yang ‘tak jujur dan suka berselingkuh dengan kejahatan namun hidupnya tetap saja tidak karuan. Itu karena dia sibuk berpoya-poya dan rakus dengan harta kekayaan. Sehingga saat nilai tawarnya sudah menurun, ia tenggelam begitu saja dari percaturan.

Demikian pengalaman yang saya temui selama kurang lebih 20 tahunan jadi jurnalis. Mohon maaf kalau ada yang pengalamannya beda sama saya. Ya, mungkin karena lingkungan kerja dan masa (era) kita yang juga berbeda. Tapi kalau yang masa saya ya demikian itu.

Mohon maaf jika ada salah dan khilaf.

Wallahu a’lam

Abdillah
Abdillah