Dijualnya kembali nomor yang telah off banyak sekali efek negatif yang bisa terjadi. Mulai dari akses media sosial dan perbankan yang berpotensi diretas orang, juga masalah sosial seperti penipuan, konflik antara masyarakat dan kesalahfahaman dalam keluarga atau pertemanan.

Saya pernah mengalami hal ini. Untungnya hanya kasus “salah telpon” yang tidak berujung pada salah faham. Ceritanya suatu ketika saya ada keperluan untuk menghubungi anak saya yang sulung, Kamilah.

Saya memang jarang berkomunikasi dengan kamilah melalui telpon kecuali ada hal yang sangat penting. Apalagi waktu itu Hp nya sempat rusak dan beberapa bulan tanpa ponsel sendiri. Lagi pula saat itu dia masih sekolah sehingga jarang menggunakan HP di sekolahnya. Akibatnya kartu HP nya non aktif dan saya tidak tahu. 

Ketika saya menghubungi si sulung ini, ternyata yang mengangkat telepon bukn dia. Saya pikir mungkin kawan sekolahnya karena suara di seberang sana memang suara anak gadis.

Namun saat saya tanyakan apakah ini nomor Kamilah, orang yang di seberang ngotot bukan. Ini memang nomor dia, katanya. Saya sempat heran, padahal selama ini memang nomor si Kamilah ya ini.

Baru beberaa waktu kemudian saya tahu dari kawan bahwa nomor kita yang sudah tidak aktif bisa diaktifkan oleh penyedia layanan seluler dan dijual kepada orang lain.

Bayangkan kalau ada orang yang salah kontak untuk urusan bisnis, keluarga, hingga kerjaan kantor. Soalnya kadang kita saat berkenalan dengan orang sering minta nonor HP dan suatu ketika saat memerlukan mengontak mereka.

Wallahu a’lam

28 Desember 2019

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *