Bergetar hati menyebut namanya. Terderai air mata merindu dirinya. Bukan karena dia bisa mengabulkan do’a. Atau karena dia yang memiliki surga. Namun karena dia adalah kekasih Sang Maha Penyayang lagi Maha Kuasa. Karena dia yang telah bersusah payah memperjuangkan kita agar bisa masuk dalam gelimang cahaya dan menikmati limpahan karuniaNya.
Rindu kami, terbuncah dalam lantun shalawat yang terucap,  dalam lisan yang ‘meratap’. Menyanjungkan do’a sejahtera dan selamat. Untuk Rasul, keluarga dan sahabat. Dengan selaksa harap, bahwa hal yang sama terlimpah kepada kita setiap saat.
Belum pernah kami menatap wajah tampannya. Belum pernah kami mendengar suara merdunya. Belum pernah kami menyimak langsung petuah bijaknya.
Hanya habar (sahih) yang datang merentang jaman. Menembus masa ribuan tahun berbilang. Bersambung rapi antar generasi yang panjang. Dalam kitab-kitab yang dijaga para ulama pejuang.
Duhai permata rinduku. Yang namamu kusebut dalam shalawat syahdu. Sediakan kami ruang di dekatmu. Untuk bermukim diri dan anak-istriku. Kutitip rindu dan  salam buat keluargamu. Karena kami ingin menjadi ahli terdekatmu. Yang disayang Allah bersama-sama dan sebagaimana kau dan kerabatmu.
Ya Rabb pemilik segala kemuliaan. Muliakan diriku dan keluargaku… Dengan menjadi manusia yang karib dengan RasulMu. Baik secara pisik, amaliah maupun keteguhan hati dalam keimanan kepadaMu. Namun janganlah Kau uji kami dengan ujian berat sebagaimana kau berikan padanya dulu. Ringankanlah beban hidup kami di dunia, lenyapkanlah segala susah dan gelisah, serta mudahkanlah segala urusan kami selalu.
Ya ilahi Yang Maha Tinggi. Angkatlah derajat kami dengan cara-cara yang mudah bagi kami. Jangan kau timpakan kesusahan da ketakutan di hati ini. Namun hidupkanlah kami dalam kenikmatan dan kesenangan nan tinggi. Serta matikan kami dalam rahmatMu yang penuh Kebahagiaan sejati.
AAMIIN
#curahan_hati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *