Mendengar kata Sembara, sebagian orang, kususnya yang seumuran dengan saya tentu akan teringat pada sandiwara radio lama berjudul “Misteri Gunung Merapi”. Cerita Sembara (tokoh utamanya) sangat populer di Indonesia, bahkan kemudian dibuatkan sinetron seri dan filem layar lebarnya. 

Tapi kampung Sembara yang saya kunjungi ini bukan kampungnya si sembara yang adalam dalam cerita radio itu. Ia adalah sebuah kampung yang lumayan terpencil di Kabupaten Kutai Timur. Saya diajak berkunjung dan berdakwah di sana oleh bapak H. Ismunandar, sang bupatinya sendiri. 

Bisa dibilang ini perjalanan dakwah yang sangat berat bagi saya. Bersama Ketua Forum Persaudaraan Muslim Kalimantan Timur (FPMK) Ustadz Rasyid Ridla, dengan menggunakan kendaraan darat sekitar lima jam lebih kami tempuh. Saya tidak menghitung karena kami tidak menuju satu tempat saja. Lima jam-an itu baru sampai Muara Bengkal. Setelah itu kami berkeliling kebeberapa tempat acara. Saya tidak hapal dan tidak tahu daerah saja yang kami singgahi. Karena memang cukup banyak acara yang dihadiri pak bupati. 

Dengan kondisi jalan yang sangat ekstrim cukup membuat kondisi tubuh saya drop saat sampai di kecamatan Muara Bengkal, tempat persinggahan pertama kami. Mungkin lantaran diguncang hebat sepanjang perjalanan saya sangat kelelahan. Apalagi saya ini memang  gampang “mabok” kalau naik kendaraan darat. 

Menginap semalam di Muara Bengkal kami melanjutkan penjelajahan ke Muara Ancalong mengikuti beberapa kegiatan bapak Bupati. Setelah itu beberapa jam kembali diguncang-guncang oleh medan yang dahsyat, bahkan menerobos anak sungai yang melintang di tengah jalan.

Akhirnya sampailah kami di Kecamatan Busang, tepatnya di lapangan kampung Sembara, sebuah desa yang nyaris tidak ada sinyal ponsel disana. 

Kehadiran kami langsung disambut meriah oleh masyarakat Busang. Mulai camat, muspika, tokoh agama dan tokoh adat memberikan jabat tangan yang sangat bersahabat. Sejenak hilang segala penat dan lelah menyaksikan antusiasme warga. 

Acara seremonialpun segera dimulai. Setelah pembacaan ayat suci Al Qur’an, sambutan camat dan bupati, sayapun mendapat kesempatan untuk menyampaikan ceramah. Karena masih dalam suasana maulid Nabi, maka saya mengangkat tema keteladanan Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari. 

Sebagaimana diketahui di daerah ini perbandingan antara penduduk muslim dan non muslim hampir sama, maka hadirin yang datang di lapangan saat itu juga bukan hanya dari komunitas muslim tapi dari berbagai keyakinan yang ada. 

Ini menjadi kesempatan saya untuk menceritakan dan memberikan pemahaman bagaimana Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam mengajarkan toleransi. Saya tegaskan kepada jamaah yang hadir bahwasanya soal toleransi Rasulullah mempraktekan sendiri secara indah. 

Bagaimana Nabi Shalallahu alaihi wa salam begitu menyayangi paman beliau bernama Abu Thalib yang seorang non Muslim. Dan bagaimana Rasul melawan kedzoliman Abu lahab dan pengikutnya. Kedua paman Nabi ini sama-sama non Muslim namun perlakuan Nabi berbeda. Itu bukti bahwa Islam mengajarkan bahwa manusia itu ‘dimusuhi’ bukan karena agamanya namun karena kedzolimannya.

Paman Nabi Abu Thalib tidak bernah dimusuhi, bahkan beliau sangat disayangi, padahal ia non Muslim. Tapi Abu Thalib adalah non Muslim yang baik. Kalau seseorang itu dzalim, walaupun mengaku muslim maka ia tetap dimusuhi. Itupun yang dimusuhi adalah sifat kedzalimannya bukan kemanusiaannya. Makanya Nabi memerintahkan kita untuk menolong orang yang didzalimi maupun yang mendzalimi. 

Menolong orang yang didzalimi jelas maksudnya, namun menolong orang dzalim itu yang kadang tidak difahami oleh banyak orang. Menolong orang dzalim adalah dengan membantu pelaku kedzaliman meninggalkan perilaku buruknya tersebut. Ini bukti bahwa manusia (pelakunya) justeru kita kasihani sehingga dia dibantu keluar dari perilaku jahatnya. 

Bahkan menjelang wafatnya Rasulullah memberikan teladan bagaimana hidup berdampingan dengan sesama manusia yang berbeda keyakinan. Diceritakan bahwa menjelang akhir hayatnya Rasulullah masih punya “hutang gadai” baju besi beliau kepada seorang yahudi. 

Ada hal yang luar biasa yang Rasulullah ajarkan kepada kita. Selain beliau mencontohkan bagaimana seorang pemimpin besar  lebih memilih berhutang dan bertanggung jawab secara pribadi daripada meminta anggaran negara untuk kepentingan sendiri, beliau juga mengajarkan bahwa bermuamalah (hubungan bisnis dan sosial) dengan non muslim adalah hal yang tidak dilarang. 

Padahal kurang banyak apa sahabat yang bakal bersedia meminjamkan atau bahkan memberikan hartanya kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam? Jangankan harta, nyawa sekalipun akan mereka berikan pada sang Nabi kekasih hati. Namun faktanya Rasulullah lebih memilih menggadaikan baju besinya kepada tetangganya yang beragama yahudi. 

Sungguh keteladanan yang sangat tinggi nilainya dan teramat dalam makna pengajaran di dalamnya. Jadi soal toleransi kita tidak perlu belajar dari budaya luar. Budaya kita sendiri yang dikenal relijius sudah terbukti mampu mendamaikan dan mengharmoniskan berbagai suku dan agama. 

Sayangnya memang belakangan ini tudingan radikal dan intoleran lebih banyak diarahkan ke umat Islam. Hal ini tentu tidak boleh lagi terjadi. Umat Islam harus berjuang merubah itu. Caranya adalah beragama dengan benar dan dengan ilmu yang kaffah (menyeluruh) tidak parsial atau sepotong-sepotong. Sebab bila ajaran agama itu dilaksanakan dengan benar ia akan membawa rahmat bagi seluruh alam, bukan hanya bagi umat Islam saja. 

Selesai acara kami sempat berkenalan dengan beberapa tokoh agama dan tokoh adat disana. Dan kejutan luar biasa buat saya karena diantara tokoh yang menyambut kami dengan ramah itu adalah orang tua sahabat saya Didik Mulyadi. Pak Didik ini teman seangkatan waktu saya kuliah di IAIN Antasari. Beliau orang ramah dan selalu bersikap baik kepada siapapun. 

Tidak menunggu habis malam dan tidak sempat menginap untuk menghilangkan penat saya dan Ustad Rasyid langsung saja kembali meluncur ke Samarinda, memisahkan diri dari rombongan bapak bupati. Bapak buati sendiri masih ada acara dan setelah itu pulang ke Sangata. 

Alhamdhlillah mesku tetap mabok perjalanan, kami bisa tiba di Samarinda sebelum subuh. Dan paginya Alhamdulillah masih bisa turun kantor tepat waktu dengan mengenakan seragam korpri. Ya, hari ini masih banyak pekerjaan kantor yang harus saya kerjakan mengingat lagi akhir tahun.

Semoga di lain waktu bisa kembali menjelajah bagian lain pedalaman kalimantan ini. Semoga diberikan umur panjang dan kesehatan yang sempurna sehingga bisa terus menjalin silaturahmi dan berbagi motivasi buat sesama yang membutuhkan.. Aamiin

Wallahu a’lam

*) Pantun untuk cara di kampung Sembara:

Buah mangga buah kuini
Jatuh sebiji di bawah kolong
Sungguh bahagia hati hari ini
Berjumpa masyarakat Muara Ancalong

Pergi ke kota membeli melati
Bunganya putih tampaknya indah
Apalagi ada bapak bupati
Acara kita bertambah meriah

Hari jumat sudahlah dekat
Besok kita sembahyang berjamaah
Bapak camat dan seluruh pejabat
Semoga acara kita bertabur berkah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *