Mengelola Perbedaan

Persaudaraan yang menyatukan hati kaum muslimin adalah sesuatu yang harus disyukuri dan dijaga. Dengan persaudaraan itulah kita kemudian saling mencintai dan mengasihi antar satu dengan lainnya. Kemudian cinta dan kasih sayang sebagai implikasi persaudaraan juga merupakan salah satu tolak ukur keimanan seorang mukmin.

“Barang siapa mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah dan menahan (pemberian) karena Allah, sungguh dia telah menyempurnakan imannya,” (HR. Abu Dawud.

Namun demikian, Iblis dan para pengikutnya senantiasa berusaha menjerumuskan umat manusia untuk jatuh ke dalam jurang keji permusuhan.Mereka berusaha sekuat tenaga merusak barisan kaum mukmin, mulai dengan cara yang kasar, yakni permusuhan yang terang-terangan dipicu oleh kejahatan dan kemaksiatan, hingga permusuhan, kedengkian, dan kedzaliman yang dilakukan atas dalih agama dan kebenaran.

Di kalangan orang yang beriman, sering kali perpecahan dan permusuhan justeru timbul dari niat awal untuk membela kebenaran. Namun sayang, karena tipu daya Syaithan dan ketidak sabaran dalam berdakwah memperjuangkan kebenaran. Kebenaran itu sendiri disampaikan dengan cara yang tak sesuai dengan tuntunan agama.

Permusuhan, juga tak jarang lantaran terjadi pemahaman dan penafsiran yang berbeda dalam urusan agama. Akibatnya sebagian pihak menyalahkan, menyesat-nyesatkan, hingga mencaci dan mencela pihak lainnya. Padahal jika kita mau membuka sejarah perselisihan dan perdebatan para ulama salaf (masa lalu), kita akan menemukan cermin yang bening dan bersih, penuh kilauan cahaya ahlak.Kita akan menyaksikan bagaimana para ulama tersebut mengelola perbedaan pendapat dan perselisihan faham menjadi khazanah pengetahuan nan luas,sehingga umat memperoleh kebebasan dari sisi sebelah mana mereka akan berenang dan menyelami lautan ilmu dan hikmah.

Kita bisa berkaca pada contoh ulama salaf, bagaimana perbedaan pendapat antara Imam Asy Syafi’I dengan Yunus Ibnu Abdil A’la tak menghalangi persaudaraan tulus antar mereka. Sampai-sampai Yunus memuji Imam Syafi’I dengan ucapan:

“Saya belum pernah melihat manusia yang paling berakal daripada Syafi’i.” Bahkan menurut Yunus seandainya seluruh umat dikumpulkan tentu akalnya mencukupi.

Wallahu a’lam

(Abu Muhammad Syafei)

Abdillah
Abdillah