Mengapa Kami Mencintai Sorban

Dalam tulisan singkat ini kami tidak ingin memperdebatkan apakah memakai surban itu sunnah ataukah mubah, karena kami faham bahwa sejak dulu kala ulama memang telah berbeda pendapat. Artinya dalam soal khilafiyah kami tak mau terjebak dalam sikap saling menyalahkan.

Namun demikian kami mengakui bahwa kami termasuk yang berpendapat bahwa memakai surban merupakan perkara sunnah. Baik sunnah dalam pengertian ilmu fiqih dimana seseorang berpahala mengamalkan nya maupun makna sunnah dalam pengertian ilmu hadits hal tersebut merupakan amalan Nabi shalallahu alaihi wa salam.

Oleh karena itu melalui catatan sederhana ini akan kami kutip (copas) beberapa dalil yang menjadi dasar bagi kami mengikut pendapat sunnah nya sorban sekaligus memotivasi kami mengamalkannya meskipun kami bukanlah seorang Arab, bukan Habib, dan bukan Ulama.

*NABI MUHAMMAD BERSORBAN*

Ada banyak Riwayat hadits, baik yang shahih, hasan, maupun dhaif yang berkaitan dengan surban. Diantaranya sebagai berikut:

1. Dari Amr bin Umayyah ra dari ayahnya berkata : Kulihat Rasulullah saw mengusap surbannya dan kedua khuffnya (Shahih Bukhari Bab Wudhu, Al Mash alalKhuffain).

2. Dari Ibnul Mughirah ra, dari ayahnya, bahwa Rasulullah saw mengusap kedua khuffnya, dan depan wajahnya, dan atas surbannya (Shahih Muslim Bab Thaharah) 

3. Para sahabat sujud diatas Surban dan kopyahnya dan kedua tangan mereka disembunyikan dikain lengan bajunya (menyentuh bumi namun kedua telapak tangan mereka beralaskan bajunya krn bumi sangat panas untuk disentuh). saat cuaca sangat panas. (Shahih Bukhari Bab Shalat). 

4. Rasulullah saw membasuh surbannya (tanpa membukanya saat wudhu) lalu mengusap kedua khuff nya (Shahih Muslim Bab Thaharah) 

5. Hadhrat Anas R.a. meriwayatkan: “Saya melihat Sallallahu alayhi wa sallam sedang berwudhu. Dia memakai sorban Qitri…” (Abû Dawûd Hal.19) 

6. Sulaiman R.a.mengatakan: ”saya melihat Para Sahabat dari kalangan Awwalun Muhajirin(mereka yang pertama kali hijrah ke Madinah) memakai sorban berbahan dari katun.” (Mussanaf Ibn Abi Shaibah Vol.8 Hal.241) 

7. Abu Dawud telah menyebutkan dalam kitab sunannya, bahwa Nabi SAW telah bersabda :”Perbedaan kita dengan orang musyrik adalah memakai sorban diatas kopiah.” 

8. Abu Dawud dan Imam Ahmad Bin Hanbal, bahsawanya Ibn `Umar r.a. telah berkata, Rasulullah (Sallallaahu Álayhi Wasallam) telah bersabda yang mahfumnya bahwa Barang-siapa yang meniru-niru suatu kaum (dalam penampilan), maka dia termasuk dari mereka. 9. Rasulullah (Sallallaahu Álayhi Wasallam) telah bersabda yang mahfumnya : Pakailah sorban karena itu adalah tanda dari malaikat. Juga biarkan ujung sorban bergantung di pundak. (Baihaqi) 

10. Pakailah sorban, karena itu akan menambah kesabaranmu. (Mustadrak of Hâkim) 

*MENURUT ULAMA SAUDI (SALAFI)*

Selaniutnya ada hal yang menarik dikemukakan ulama Saudi yang tentu sudah masyhur dikenal oleh dunia Islam berfaham salafi. 

 1. Bahwasanya Shaikh Muhammad Ibn Jameel Zainu (Imam Muhammad Ibn Saud Islamic University) dalam bukunya ( Al-Shamail Al-Muhammadiyyah , hal. 106) menulis: Ayat Al Qur’an , “ Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bersiap-siaga, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu Malaikat yang MEMAKAI TANDA. (S. Al Imran : 125) Ibn ‘Abbas rahimahumullah , Ulama terbesar di awal Islam, berkata: ”Tanda itu maksudnya adalah MEREKA MEMAKAI SORBAN.” 

 Mungkin pernyataan ulama salafi (Saudi) Syaikh Jamil Zainu ini tidak menjelaskan soal hukum soban apakah sunnah ataukah mubah. Namun pengutipan pendapat Ibnu Abbas oleh beliau bahwa tanda yang dipakai oleh Malaikat adalah SORBAN menunjukan betapa istinewanya sorban sehingga mahluk suci (malaikat) pun mengenakannya, bahkan sebagai TANDA bagi mereka. 

 2. Syaikh Albani, ulama haditsnya kaum salafi (Saudi) lainnya saja menyebutkan keutamaan shalat mengenakan surban. Syaikh Al-Albaniy berkata, “Menurut hematku, sesungguhnya shalat dengan tidak memakai tutup kepala hukumnya adalah makruh. Karena merupakan sesuatu yang sangat disunnahkan jika seorang muslim melakukan shalat dengan memakai busana islami yang sangat sempurna, sebagaimana yang telah disebutkan dalam hadits: “Karena sesungguhnya Allah paling berhak untuk dihadapi dengan berhias diri.” (Permulaan hadits di atas adalah: “Jika salah seorang dari kalian mengerjakan shalat, maka hendaklah dia memakai dua potong bajunya. Karena sesungguhnya Allah paling berhak untuk dihadapi dengan berhias diri.” [HR Ath-Thahawi] 

 Syaikh Al-Albaniy berkata lagi, “Tidak memakai tutup kepala bukan kebiasaan baik yang dikerjakan oleh para ulama, baik ketika mereka berjalan di jalan maupun ketika memasuki tempat-tempat ibadah. Kebiasaan tidak memakai tutup kepala sebenarnya tradisi yang dikerjakan oleh orang-orang asing. Ide ini memang sengaja diselundupkan ke negara-negara muslim ketika mereka melancarkan kolonialisasi. Mereka mengerjakan kebiasaan buruk ini ; namun sayangnya malah diikuti oleh umat Islam. Mereka telah mengenyampingkan kepribadian dan tradisi keislaman mereka sendiri. Inilah sebenarnya pengaruh buruk yang dibungkus sangat halus yang tidak pantas untuk merusak tradisi umat islam dan juga tidak bisa dijadikan sebagai alasan untuk memperbolehkan shalat tanpa memakai tutup kepala.” Tidak pernah disebutkan dalam sebuah riwayat yang menyatakan bahwa Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- tidak memakai tutup kepala ketika shalat kecuali hanya ketika ihram. Barangsiapa yang menyangka beliau pernah tidak memakai imamah (sorban) ketika shalat -selain pada saat melakukan ihram-, maka dia harus bisa menunjukkan dalilnya. [dalam Ad-Dinul Khalish (3/214) dan Al-Ajwibah An-Nafi’ah an Al-Masa’il Al-Waqi’ah (hal.110)] 

*SORBAN PARA ULAMA*  

1. Dalam kitab tentang biografi pendiri mazhab Hanafi, Imam Abu Hanifah (terkenal karena pemikirannya yang intelek ), Imam al-Suyuti and al-Haytami meriwayatkan bahwa beliau (Imam Hanafi) memiliki tujuh buah sorban, mungkin beliau memakai satu sorban untuk satu hari dalam seminggu. 

 2. Imam Syafi’I selalu memakai sorban yang besar, seolah-olah beliau adalah orang Arab di tengah padang pasir.” Seperti juga dengan muridnya, Pendiri mazhab Hambali, Ahmad ibn Hanbal selalu memakai sorban dengan melilitkan sebagian ekornya dibawah dagu. Banyak kaum muslimin di Afrika Utara dan di Sudan meniru cara beliau dalam memakai sorban. 

 3. Telah disebutkan juga bahwa Imam Bukhari Rahmatullah alayhi ketika mempersiapkan perjalanannya ke Samarqand, beliau memakai sorban dan memakai kaos kaki dari kulit. (Muqadama Fathul Bari Hal.493) 

 4. Juga telah diriwayatkan bahwa Imâm Muslim Rahmatullah alayhi suatu ketika pernah meletakkan cadarnya (selendangnya) pada sorbannya didepan gurunya lalu meninggalkan ruangan kelas. (Muqadama Fathul Bari Hal.491) Ini membuktikan bahwa Imam Muslim Rahmatullah alayhi ketika mempelajari hadits selalu dalam keadaan memakai sorban. 

 5. Ibn Hajar Al-Asqalani (Rahimahullah) telah menyebutkan di dalam kitab Fathul Baari hal. 491 dan 493, bahwasanya Imam Bukhari dan Imam Muslim keduanya selalu memakai sorban. Sungguh menarik tentunya bagi kita bahwa ternyata walaupun mereka bukan orang Arab tapi mengamalkan hal ini (memakai sorban) untuk mengikuti Rasulullah (Sallallaahu Álayhi Wasallam) . 

6. Ibn Al-Jawzi dan Ibn Al-Qayyim (dalam kitab Rawdat al-muhibbin hal. 225.) mengatakan bahwaHasan al-Basri (Rahimahullah) selalu memakai sorban hitam. 7. Seorang ulama mengutip dari biografi Imam nawawi, bahwasanya Imam Nawawi seumur hidupnya hanya memakai baju panjang dan sebuah sorban. 

*SAHABAT MEMAKAI SORBAN*

1. Abu Umar R.a.meriwayatkan bahwa ia pernah melihat Hadhrat Ibn Umar R.a. membeli sebuah sorban yang memiliki hiasan padanya Ia meminta sebuah gunting lalu memotong hiasan itu. (Ibn Majah Hal.26) 

 2. Nafi’ Rahmatullah alayhi mengatakan: ”Saya melihat Ibn Umar R.a. memakai sorban yang mana ekornya bergantung di antara kedua punggungnya.”( Ibn Majah Vol.8 Hal.2) 

*SORBAN HITAM*  

1. Hadhrat Huraith R.a.meriwayatkan bahwa Nabi Sallallahu alayhi wa sallam menjumpai manusia sedang beliau memakai sorban hitam Hadhrat Jaabir R.a.meriwayatkan bahwa pada saat Fathul Makkah (Penaklukan kota Makkah) , Nabi Sallallahu alayhi wa sallam memasuki kota Makkah Mukarramah dengan memakai sorban hitam. (Sahih Muslim Vol.1 Pg439) 

 2. Ibn Abbas (Radhiallaahu Án) meriwayatkan bahwa Rasulullah (Sallallaahu Álayhi Wasallam) menemui para sahabat sedang beliau memakai sorban hitam. Hadhrat Ibn Abbas R.a.meriwayatkan selama Nabi Sallallahu alayhi wa sallam sakit yang menjadi asbab wafatnya, Nabi Sallallahu alayhi wa sallam menjumpai Para Sahabat Radhiallahu anhum dengan menggunakan sorban hitam. (Sahih Bukhari Vol.1 Hal. 536) 

 3. Hazrat Jaabir (Radiallahu Anhu) meriwayatkan bahwa pada saat Fathul Makkah, Nabi (SallallahuAlaihi Wasallam) memasuki kota Makkah Mukarramah dengan memakai sorban berwarna hitam. (Shamaail Tirmizi Hal. 8; Ibn Majah Hal.256) 

 4. Dalam riwayat lain : “Saya melihat Nabi Sallallahu alayhi wa sallam memakai sorban hitam.” Amr bin Huroits -radhiyallahu ‘anhu- berkata, ﺃَ “Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah berkhutbah, sedang beliau memakai surban hitam”. [HR. Muslim (1359), Abu Dawud (4077), Ibnu Majah (1104 & 3584)]  

5. Al-Hasan Al-Bashriy -rahimahullah- berkata dalam menceritakan kebiasaan sahabat dalam memakai songkok dan imamah, “Dahulu kaum itu (para sahabat) bersujud pada surban, dan songkok (peci), sedang kedua tangannya pada lengan bajunya”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Kitab Ash-Sholah: Bab As-Sujud ala Ats-Tsaub fi Syiddah Al-Harr (1/150) , Abdur Razzaq dalam Al-Mushonnaf (1566)] 

*SORBAN HIJAU*  

Sulaiman bin Abi Abdullah mengatakan, bahwa beliau melihat Sahabat dari kalangan kaum Muhajirin, mereka memakai sorban berwarna hitam, putih, merah, hijau dan kuning. (Musannaf-e-ibn Abi Shaiba, Vol 8, Hal. 241)

 ﺣﺪّﺛﻨﺎ ﺃﺑﻮ ﺑﻜﺮ ﻗﺎﻝ ﺣﺪﺛﻨﺎ ﺳﻠﻴﻤٰﻦ ﺑﻦ ﺣﺮﺏ ﻗﺎﻝ : ﺣﺪﺛﻨﺎ ﺟﺮﻳﺮ ﺑﻦ ﺣﺎﺯﻡ ﻋﻦ ﻳﻌﻠﻰ ﺑﻦ ﺣﻜﻴﻢ ﻋﻦ ﺳﻠﻴﻤٰﻦ ﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﻋﺒﺪﺍﻟﻠﻪ ﻗﺎﻝ : ﺃﺩﺭﻛﺖ ﺍﻟﻤﻬﺎﺟﺮﻳﻦ ﺍﻷﻭﻟﻴﻦ ﻳﻌﺘﻤﻮﻥ ﺑﻌﻤﺎﺋﻢ ﻛﺮﺍﺑﻴﺲ ﺳﻮﺩ ﻭﺑﻴﺾ ﻭﺣﻤﺮ ﻭﺧﻀﺮ 

Sulaiman bin Abi Abdullah (ra) berkata bahwa pada saat ia berjumpa “Muhajirina awwalun” (Para Sahabat dari kalangan Muhajirin yang paling awal berhijrah) mereka memakai sorban tebal, ada yang berwarna hitam, putih, merah and HIJAU” [Musannaf Ibn Abi Shaybah (6/48)] 

 Demikianlah sebagian yang bisa kami kutip dari berbagai rujukan. Mungkin belum bisa dikatakan ilmiah karena kami copas dari situs-situs internet, namun paling tidak dengan penyebutan sumber riwayat dan kitabnya, kita bisa melakukan pengecekan di kitab aslinya.  

Semoga bermanfaat, khususnya bagi sesama kami yang percaya memakai sorban (imamah) itu sunnah atau minimal merupakan tradisi yang baik (mulia). 

Adapun anda yang tidak suka dengan sorban dan orang-orang yang bersorban, artikel ini bukan buat anda tentunya, jadi abaikan saja. 

 Wallahu a’lam 

Abu Muhammad Syafei

Abdillah
Abdillah