Menurut pengamatan saya, yang banyak membahas soal POLIGAMI, terutama dengan ulasan yang ‘miring’ justeru adalah mereka yang bukan pelaku poligami. Mereka lihai dalam menebak-nebak,  menghakimi bahkan juga menghukumi para pelaku POLIGAMi. Apa yang mereka lihat dari beberapa kasus ‘kegagalan’ poligami dijadikan pembenaran untuk memberat-beratkan dan memburuk-burukkan POLIGAMI.
Ada yang bilang POLIGAMI itu bentuk kekerasan pada perempuan. Padahal coba perhatikan berapa banyak kasus, baik yang ada di pengadilan agama maupun pengadilan ‘kriminal’ (pengadilan negeri), berapa persen nya sih yang merupakan kasus dalam rumah tangga poligami? Ternyata mayoritas justeru pada rumah tangga monogami.
Ada yang mengatakan bahwa POLIGAMI membuat anak-anak terlantar. Padahal tanyakanlah pada anak-anak jalanan, berapa banyak diantara mereka yang berasal dari rumah tangga poligami? Maka kita akan menemui bahwa sebagian besar dari mereka adalah berasal dari rumah tangga monogami. Bahkan ada yang bukan berasal dari rumah tangga, alias hasil pergaulan bebas (kumpul kebo).
Lihat pula para remaja yang terlibat kasus narkoba atau tindak kejahatan lainnya di penjara sana. Berapa diantara mereka yang berasal dari rumah tangga POLIGAMI? Kenyataannya sebagian besar mereka adalah anak-anak yang tak terurus dari rumah tangga MONOGAMI atau malah dari hasil pergaulan bebas tanpa ikatan pernikahan.
Ada pula yang menuduh bahwa lelaki berpoligami adalah lelaki yang rakus dan mengagungkan sex. Sungguh ini merupakan tuduhan yang berlebihan jika tak ingin dikatakan fitnah keji. Perhatikan lelaki-lelaki pelaku poligami (yang sesuai aturan agama tentunya). Apakah mereka adalah lelaki-lelaki ganjen yang suka bermain perempuan? Lalu lihatlah di lokalisasi-lokalisasi pelacuran yang banyak bertebaran di negeri ini. Perhatikan dengan seksama siapakah pengunjungnya? Apakah para pelaku poligami? ternyata mayoritas pendukungnya adalah mereka yang sama sekali tidak mengerti syari’at Ta’addud Az Zaujat (poligami Islam).
Para pengunjung dan penikmat lokalisasi pelacuran, kebanyakan adalah pelaku MONOGAMI yang tidak taat beragama, gemar selingkuh dan tak merasa cukup dengan istri mereka di rumah. Bahkan banyak pula diantara mereka adalah para lajang yang sudah kehabisan kesabaran menanti manita yang halal sehingga memuaskan syahwatnya di tempat kotor seperti itu.
Jadi…. Jangan hubung-hubungkan POLIGAMI (ta’addud Az Zaujat) dengan keburukan-keburukan yang memang tidak ada korelasinya…. Plis deh.. Poligami itu ada aturan dan tata caranya. Ada hukum-hukum yang harus ditaatinya. Ada nilai-nilai moral yang dipeliharanya. Poligami Islam bukan ajaran kekerasan, pelanggaran HAM, apalagi pemuasan nafsu setan. POLIGAMI Islam adalah solusi kehidupan moral yang diwahyukan langsung oleh Sang pemilik kehidupan ini, yakni Allah Subahanhu wa Ta’ala.
Sekiranyapun ada beberapa kasus yang buruk terjadi dalam rumah tangga POLIGAMI, maka itu bukan karena POLIGAMI nya yang buruk, namun karena kelalaian pelakunya dalam mentaati hukum yang ada dalam POLIGAMI sendiri. Jadi itu justeru penyimpangan dari aturan poligami sendiri.
Sebagaimana rumah tangga MONOGAMI, juga tak lepas dari banyak kasus yang buruk tentu tidak membuat kita menjadi menganggap bahwa menikah MONOGAMI itu juga merupakan hal buruk kan?
Marilah berpikir dan bersikap  adil. Bukan POLIGAMI atau MONOGAMINYA yang buruk… Yang buruk adalah perilaku manusianya, tak perduli apakah itu MONOGAMI ataukah POLIGAMI. Bahkan seorang yang tak menikah sekalipun PERILAKU BURUK tetap saja bisa ia lakukan jika memang  keimanannya lemah.
Wallahu a’lam
 
Samarinda 23/01/2014
(Abu Muhammad Abdillah Syafei)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *