Memperhatikan Dengan Siapa Kita Berguru

Kadang sebagian penuntut ilmu mengabaikan akhlaq sang guru. Menjadi jamaah suatu pengajian yang gemar menebar celaan, gurunya berlisan kotor dan hobi menghibah, ia tutup mata dan berkata; “Ah, saya nggak ikut ghibah dan caci makinya. Bagi saya yang penting menuntut ilmu.”

Sahabat dan kerabat, agama itu bukan sekedar pengetahuan namun juga akhlaq sebagai buahnya. Bagaimana kita tak merasa khawatir mengaji dengan guru yang akhlaqnya buruk? Padahal Rasulullah saja diutus ke dunia ini adalah untuk menyempurnakan akhlaq. Lalu agama yang mananya yang ingin kita pelajari dari guru dengan karakter jahat?

Para ulama salaf saja menghabiskan waktu lebih panjang untuk belajar  adab sebelum mereka mengaji ilmu.

Rasulullah bersabda kepada Ibnu Umar:  ”Wahai Ibnu ’Umar, agamamu ! agamamu ! Ia adalah darah dan dagingmu. Maka perhatikanlah dari siapa kamu mengambilnya. Ambillah dari orang-orang yang istiqamah, dan jangan ambil dari orang-orang yang melenceng” (Al-Kifaayah fii ’Ilmir-Riwayah oleh Al-Khathib hal. 81)

’Ali bin Abi Thalib radliyallaahu ’anhu juga pernah berkata: ”Lihatlah dari siapa kalian mengambil ilmu ini, karena ia adalah dien/agama”.

Ibnu Sirin (tabi’in) menyampaikan: “Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka lihatlah dari siapakah kalian mengambil agama kalian” [Riwayat Muslim].

Pertimbangan memilih guru tidak saja pada seberapa banyak dan tinggi ilmu si guru. Tapi juga sejauh mana ia mampu memberikan teladan bagaimana pengamalan ilmu itu. Apalagi ilmu agama, ia tak hanya mencakup pengetahuan aqidah dan hukum fiqih saja, juga bagaimana akhlaq dan perilakunya.

Belajar pada guru PEMBOHONG, kau bisa menjadi PENIPU, belajar pada guru yang KASAR dan bermulut KOTOR kau bisa menjadi PENCACI dan PENCELA, belajar pada guru yang mengkondisikan kau untuk fanatik pada dirinya bisa membuat kau kehilangan objektifitas hingga susah menerima kebaikan dan kebenaran.

Guru yang arif, bijak dan menjadi teladan bagaimana beragama yang baik, meski belum banyak ilmu yang kita dapat darinya, pasti sangat terasa manfaat. Dan manfaat yang terpenting dari ilmu adalah ketika dengan ilmu itu kita semakin taqwa kepada-Nya.

WALLAHU A’LAM

(Abdillah Syafei)
15/12/2015

Abdillah
Abdillah