Angin dingin masih membelai puncak gunung steleng
Embun ayu masih bergayut manja di pucuk rumpun perdu
Anak-anak desaku menggenggam obor bambu menerobos pekatnya subuh
Kumandang azan membelah langit
Diantara semburat fajar sidiq yang temaram di sebelah timur.
Begitulah Samarinda di masa kecilku dulu
Samarinda tanpa polusi asap dan debu
Samarinda kampung bersahaja di tepi mahakam yang tenang berwibawa.
Sudah puluhan tahun berlalu, ingatan itu begitu kuat membekas di kepalaku
Sudah puluhan tahun lalu, seperti
baru terjadi kemarin pagi
Samarinda adalah surga kehidupan yang selalu memancing rindu
Berulang kali, setiap melewati tempat-tempat penuh memori
Batinku serasa terenyuh
Antara sedih pilu namun juga gembira karena pernah mengalami masa emas dalam hidupku
Pernah behayau di padang banta
Pernah mehancau di kolam rawa
Pernah tajun ciruk di batang jembatan tiga
Dan pernah tehantup jamban pas main ajakan.
Kenangan manis yang tak pernah dirasakan generasi milenial.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *