Betul, bahwa mencari jodoh jangan terlalu memilih. Namun memilih adalah bagian dari kehati-hatian. Memilih dan memilah adalah naluriah pertahanan diri manusia karena manusia memiliki  insting untuk melindungi dirinya dari pilihan yang salah.

Apapun yang salah pasti akan membawa keburukan bagi dirinya. Oleh karena itu pilihan yang tepat tetaplah harus menjadi tujuan, meski untuk itu kita tidak boleh terlalu memilih dan bersikap ‘paranoid’ terhadap calon pasangan.

Terlalu memilih, memang juga berdampak buruk bagi diri kita, karena kita pasti tidak akan menemukan sosok yang sempurna. Setiap manusia adalah tempatnya cacat dan cela, tempat aneka kesalahan berada. Namun paling tidak, seharusnya kita memiliki ukuran-ukuran utama alias skala prioritas. Jika saja hal-hal pokok dan utama tersebut telah terpenuhi, tiada alasan bagi kita untuk mengurungkan pilihan.

Pilihan adalah suatu titik puncak keyakinan bahwa kita siap menerima segala konsekuensi dari pilihan itu sendiri. Pilihan merupakan tempat di mana kita menetapkan komitmen untuk mensyukuri dan memelihara kelebihan-kelebihan pilihan kita, sementara di sisi yang lain kita juga siap bertanggung jawab untuk memperbaiki kekurangan yang ada pada pilihan tersebut.

Demikian pula dalam soal jodoh… Berharap pasangan yang tanpa cacat adalah mustahil belaka. Yang perlu dilakukan adalah mencari dia yang masuk dalam standar ukuran yang kita buat. Tak perlu terlalu muluk, yang penting bisa mendatangkan kemaslahatan bagi hidup kita ke depan, itu sudah cukup.

Yang kurang bisa ditambahkan, yang salah bisa dibenarkan, yang rusak bisa diperbaiki, selama ada keinginan untuk itu, baik dari kita maupun pasangan kita. Bahkan dengan segala kekurangan yang ada itulah, interaksi saling membutuhkan akan terjalin secara baik.

Memilih tentu bukan hanya persoalan wajah dan tampilan fisik semata. Memilih harus diutamakan kepada akhlak dan kesolehan dalam beragama. Tampilan yang cantik/tampan menggoda jika dihiasi dengan akhlak yang buruk juga seakan tiada artinya.

Bayangkan saja, jika anda seorang wanita memiliki suami yang gagah perkasa serta kaya raya, namun berakhlak kasar. Tiap hari memaki dan mencaci, bahkan menganiaya diri anda. Apakah bahagia hidup bersama suami keji seperti ini? Saya yakin, wanita yang masih berakal waras tak akan pernah bermimpi mendapat suami seperti ini.

Atau sebaliknya. Anda seorang lelaki yang memiliki istri cantik jelita, namun berperangai buruk. Kata-katanya selalu tajam menusuk hati, tingkahnya selalu membuat anda cemburu setiap hari, pergaulannya bebas tak terkendali, sudah begitu uang gaji anda selalu habis ‘dirampoknya’ di hari yang sama saat anda menerimanya? Belum lagi, ia selalu bertengkar dengan tetangga, tidak hormat kepada orang tua anda. Apakah wanita cantik ini akan membuat bahagia? Jelas tidak..!!!

Memilih cantik boleh, memilih kaya tidak salah, bahkan memilih karena kebangsawanannya pun bukan sebuah cela. Tapi Rasulullah menegaskan bahwa yang paling utama dari ukuran kita memilih jodoh, adalah karena agamanya.

Percayalah, istri yang tak cantik secara fisik, akan sangat menarik manakala memiliki akhlak yang mulia, tutur kata dan perbuatannya akan membuat anda selalu merindukannya. Demikian pula suami yang baik, yang mulia akhlaknya, tekun ibadahnya, lagi bertanggung jawab terhadap anak dan istrinya. Lelaki seperti ini akan terlihat gagah dan perkasa, meski tampang fisiknya boleh jadi biasa-biasa saja.  Berada dalam dekapannya adalah kedamaian yang tiada taranya. Ya, karena kehadirannya sebagai pengayom anda mendapat ridho dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Wallahu a’lam

14/01/2014

JENDELA NURANI
(Abdillah Syafei)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *