JENDELA NURANI: Sesungguhnya Allah Maha Lembut mencintai kelembutan, dan memberikan pada kelembutan yang tidak diberikan kepada sikap kasar.(HR.Muslim)
Imam Muslim juga meriwayatkan dari Aisyah RA bahwa Nabi Muhammad saw bersabda: Sesungguhnya kelembutan itu tidak akan ada pada apapun kecuali akan memperindahnya. Dan tidak dicabut dari sesuatu kecuali akan memperburuknya.
Imam Muslim juga meriwayatkan dari Jarir bin Abdullah RA berkata: Aku mendengar Rasulullah saw bersabda: Barang siapa yang terhalang dari kelembutan akan terhalang dari semua kebaikan.
Saudaraku yang kucintai karena Allah… Dalam suku apapun kita mengenal bahasa halus (lembut/sopan) dan bahasa kasar (kurang atau tidak sopan). Bahasa mana yang ingin kita pakai? Itu pilihan masing-masing individu. Sebaiknyalah seorang muslim memilih bahasa yang sopan dan menunjukkan kelemah lembutan.

Kebijaksanaan hanya muncul dari kesadaran akan pilihan yang terbaik dari banyak pilihan yang ada. Kebijaksanaan dan kemuliaan tak sekedar hanya bicara benar salahnya kata atau kalimat namun juga nilai moral yang terkandung di dalamnya.
Boleh jadi orang bisa menerima (memaklumi) kalimat kurang sopan yang kita sampaikan dan tidak menganggapnya sebagai sebuah kejahatan. Namun boleh jadi juga dari kalimat yang tak bersopan santun itulah lahir ketidaksukaan atau perasaan dilecehkan. Dan ini akan membawa pengaruh negatif, baik pada kemuliaan diri si pengucap maupun si pendengar.
Adalah kelembutan dan kemuliaan perkataan merupakan bagian dari akhlaq yang mulia. Mari berkaca pada sejarah, bagaimana para ulama salafus shalih sedemikian memperhatikan ‘budi bahasa’, kesopanan dan kebagusan akhlaq.
Memang terkadang nafsu kita yang cenderung kepada keburukan selalu berusaha mencarikan seribu satu alasan bagi kita untuk berkata, berbuat maupun bersikap yang ‘menyimpang’ dari kemuliaan akhlaq. Namun percayalah bahwaq Allah selalu memberikan ilham yang baik kepada kikta. Dan salah satu cara mencari petunjuk kebaikan itu adalah dengan ‘bertanya’ pada hati nurani kita.
Terkadang ada kebaikan yang kita tak mendapat penjelasan langsungnya (tekstual) melalui nash. Namun nilai moral dan kesopanan yang kita gali dari hati nurani menuntun kita untuk menyingkapnya.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Wabishoh, “Wahai Wabishoh, bertanyalah kepada hatimu, bertanyalah kepada jiwamu- Nabi katakan sebanyak tiga kali-. Kebaikan adalah apa yang hati merasa tenteram melakukannya. Sedangkan dosa adalah apa yang menyebabkan hati bimbang dan cemas meski banyak orang mengatakan bahwa hal tersebut merupakan kebaikan” [HR Ahmad no 18035, dinilai al Albani berkualitas hasan li ghairihi].
Ketika kita ingin berucap dengan kosa kata yang ada dalam perbendaharaan bahasa yang kita pakai, kita bisa menimbang dan memilih kosa kata mana yang dinilai lebih sopan. Minimal kesopanan dalam ukuran yang umum. Hal ini tentu membutuhkan pertimbangan hati. Hati tentu bisa menilai kalimat apa yang lebih ‘bagus’ untuk diucapkan.
Semoga jiwa dan raga kita selalu dituntun oleh Allah menuju kelembutan akhlaq. Sehingga perkataan kita adalah pertaan yang sopan dan menentramkan, perbuatan kita adalah perbuatan yang mulia dan membuat aman sesama makhluq… Aamiin
Wallahu a’lam
(Abu Muhammad)
08/01/2014

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *