Sering hati saya tergelitik untuk ‘mengkritik’ kesalahan orang lain terutama seorang Ustadz. Bahkan di laptop masih tersimpan beberapa tulisan yang lumayan panjang dan ‘keras’. Namun kemudian saya menahan diri untuk memposting tulisan-tulisan tersebut sehingga tulisan yang sudah capek-capek dibuat dengan membuka aneka referensi batal tayang. Ada beberapa pertimbangan, diantaranya karena:
1) Saya masih mencoba berbaik sangka dan mencarikan ‘uzur’ atas kesalahan si ustadz tersebut.
2) Saya memandang bahwa kritik secara umum hanya akan menjatuhkan harga diri si Ustadz, padahal dibalik satu kesalahan yang ingin saya kritik, sang ustadz masih memiliki kebaikan yang teramat banyak.
3) Saya khawatir kritik saya yang mempermalukan beliau justeru memancing emosi beliau bukan menyebabkan timbul kesadarannya untuk meninggalkan kesalahan tersebut. Akhirnya, jagan-jangan malah menjadi-jadi.
4) Saya khawatir satu kesalahan beliau yang saya bongkar menyebabkan banyak kebaikan beliau yang tertutupi sehingga sebagian jamaah malah ‘membenci’ beliau. Padahal sebenarnya masih terlalu banyak manfaat yang bisa mereka ambil dari si ustadz.
5) Sebagai manusia yang juga punya banyak kekurangan, saya khawatir sang ustadz ataupun loyalisnya malah marah dan gantian membongkar aib saya. Sehingga kami yang semula sama-sama ingin berdakwah di jalan Allah, malah sama-sama terjerumus dalam keburukan.
6) Saya merasa bahwa istri dan anak serta orang yang ada dalam tanggungan saya adalah sasaran kritik dan perbaikan yang pertama dan utama. Jangan sampai saya bersibuk-sibuk mengkritik kesalahan orang lain sementara kesalahan diri saya, istri-istri dan anak-anak saya masih menumpuk di depan mata.
Kecuali tentunya serangan dan cacian dari pendengki dan orang yang terang-terangan tak punga keinginan untuk.mendamaikan umat ini. Maka mau tidak mau, jika belim ada orang lain yang menghadapinya, terpaksa saya sendiri yang harus “berlaga”. Apalagi jika ‘serangan jahat’ itu secara langsung ditujukan kepada pribadi dana keyakinan saya, maka dengan segala keterpaksaan saya harus melawan. Mempertahankan kehormatan dan kemuliaan diri serta apa yamg saya yakini dan saya amalkan.
Semoga Allah memelihara diri saya, keluarga saya dan sahabat-sahabat saya di FB maupun dunia nyata dari keburukan sikap dengki dan gemar mencari-cari aib orang lain.
Semoga kami diberikan kelapangan dada, dan keringanan hati untuk bertaubat atas kesalahan dan dosa-dosa kami sendiri… Aamiin
❤❤❤❤❤
Salam Cinta Saudara Seiman
JENDELA NURANI
(Abdillah Syafei)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *