Memaafkan

Memaafkan Itu Mulia seorang yang mampu memaafkan orang lain pasti akan mendapat keberuntungan dalam hidup. Tidak mudah utuk memaafkan kesalahan siapapun karena diri kita ini adalah mahluk yang memiliki hawa nafsu dan perasaan. Justeru karena beratnya itulah maka nilainyapun menjadi sangat tinggi.

MEMAAFKAN LEVEL 1

Bila hujan tak bisa mendinginkan amarahmu mudahan desaunya bisa membuat tidurmu lebih nyenyak, sehingga jiwamu tentram dan luka batinmu menjadi pulih.

Sungguh memaafkan orang lain itu adalah demi kebahagiaanmu sendiri bukan buat dia yang menjahatimu. Karena seribu maaf pun kau berikan tak akan bermanfaat buatnya jika dia tetap dengan watak yang buruk.

Tapi dengan memaafkan membuat batinmu ringan, karena beban dendam yang berat itu sudah kau campakkan ke tong sampah. Dan kau melanjutkan hidupmu tanpa bayang-bayang orang yang tak berguna itu.

MEMAAFKAN LEVEL 2

Dirimu mungkin tak terdampak dengan amarah yang kau pendam. Hatimu sudah dingin dan terlalu beku untuk bisa diganggu oleh kekesalan. Namun kamu masih punya belas kasihan.

Ya, kau kasihan terhadap orang yang berbuat jahat kepadamu karena sebenarnya mereka akan menjadi korban akibat dosa-dosanya sendiri. Maka kau maafkan mereka karena kasih dan sayangmu.

Kau menyadari bahwa membalas kejahatan dengan kejahatan akan membuat nilai dirimu jadi tak berbeda dengan sang penjahat. Maka kaupun memaafkannya karena kau tak mau turut menjadi rendah.
Maaf yang kau berikan membuatmu menjadi pemenang sebenarnya.

MEMAAFKAN LEVEL 3

Kau memaafkan seperti tak memaafkan. Itu karena kau merasa memang tak ada yang perlu dimaafkan. Mengapa? Sebab kau hanya menganggap, apapun kejahatan dan ketidakadilan yang dialami itu memang jatahmu yang diberikan oleh Dia Yang Menciptakanmu.

Kejahatan itu tidak akan mungkin menimpa jika tidak diizinkan oleh Tuhanmu. Ketidakadilan itu sejatinya anugerahNya yang dengan itu Dia mau menunjukan bahwa kau adalah sosok hamba yang ikhlas. Kau akan naik kelas.

Tidak ada penjahat yang kau benci. Yang kau benci adalah kejahatannya. Saat kau dijahati orang maka bagimu itu adalah ujian keimanan. Pun saat orang berbuat baik padamu dan kau mendapat banyak kesenangan. Itu juga ujian.

Semuanya baik bagimu. Susahmu mendatangkan kesabaran, senangmu menumbuhkan kesyukuran. Dunia ini hanya permainan yang melenakan yang memang tetap harus kau arungi tapi tak sampai membuatmu hanyut.

Hatimu terlalu mahal jika harus diberikan kepada dunia fana ini. Ia telah kau letakkan pada harapan akan ridho Nya semata. Sehingga ketika ada orang berbuat curang bahkan dzolim padamu semua itu tak membekas di perasaan.

Hatimu terlalu mahal buat ditempati dendam dan kebencian.
Sakitnya dijahati orang seperti sakitnya perut saat kau akan buang air besar. Sakit yang justeru kau syukuri hadirnya lalu kau buang dengan selega-leganya di tempat yang semestinya. Setelah itu… Kau lupakan.

Abdillah
Abdillah