Manhaj Salaf Imitasi

Assalamu alaikum. Selamat kepada sahabat dan kerabat yang diberi hidayah oleh Allah dan mulai memperbanyak ibadah serta memperdalam ilmu agama. Selamat, jika kini antum (kalian) mulai bersemangat mengikuti kajian-kajian di majelis ilmu. Mari jaga hidayah yang mahal itu dengan memperbanyak pengetahuan agama agar kita bisa menjalani kehidupan ini sesuai dengan aturan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Namun demikian sahabat dan kerabat, berhati-hatilah dalam berguru. Jangan mudah fanatik buta lalu terdogma untuk menutup hati dan akal dari objektifitas. Mengikuti sebuah kajian, lalu kagum dengan kehebatan ustadz dan pembinanya adalah hal wajar, namun (sekali lagi) jangan sampai membutakan hati untuk menerim realita akan kelebihan dan kekurangan guru kita.
Ingatlah bahwa kita tengah mencari kebenaran bukan “pembenaran” atas pilihan tempat mengaji.
Jangan pula kita langsung percaya seratus persen akan klaim-klaim dari kelompok manapun bahwa kelompoknyalah yang paling benar dan paling sesuai dengan Al Qur’an  dan Hadits yang merupakan sumber utama ajaran Islam.
Sahabat dan kerabat, apalagi kalau klaim itu hanya sebatas selogan, misalnya pernyataan bahwa kelompok tersebut paling sesuai dengan manhaj (cara beragama) salafus shalih (generasi awal yang shalih). Lihat dengan cermat apakah selogan tersebut nyata ataukah hanya pemanis kata semata.
Semua ahlussunnah pasti sepakat bahwa beragama yang benar adalah yang mengikuti manhaj (cara/metode) salaf. Namun tidak serta merta pengakuan ‘bermanhaj salaf’ begitu saja bisa dipercaya, karena tak mustahil ada orang yang mengklaim berada di atas manhaj Salaf padahal akhlaqnya tidak sesuai dengan akhlaq salafus shalih.
Oleh sebab itu perlu kehati-hatian dalam mengikuti suatu pemahaman. Cek benar-benar apakah yang diajarkan memang mengikuti manhaj salaf dalam beragama ataukah sebagian saja dari manhaj salaf atau bahkan tidak sama sekali. 
Kenyaataan yang terjadi, kadang ada sekelompok orang yang mengaku berada di atas sebagian amaliah salaf, dan menistakan bahkan menyesatkan amaliah maupun keyakinan salafus shalih yang lain. Ia memaksakan membatasi manhaj salaf hanya pada pemahaman tertentu. Padahal cara beragama seperti itu pun sudah menyelisihi cara salafus shalih.
Secara sepintas seakan benar bahwa mereka berada di atas manhajnya salafus shalih padahal “jauh panggang dari api”.
Salafus shalih (generasi sahabat, tabi’in dan tabiut tabi’in) kadang berbeda pendapat alias tak satu madzhab pemikiran. Mereka berbeda dalam beberapa hal furu, namun mereka juga sama-sama menghargai dengan tak saling memvonis sesat. Mereka tak bermudah memvonis saudaranya yang berbeda pandangan dalam perkara ijtihadiyah sebagai ahli bid’ah.
Berbeda dengan pengaku-ngaku yang mengklaim dirinya sendiri saja sebagai pengikut salaf di jaman khalaf ini. Pengakuan palsu mereka itu sangat terlihat ketika mereka secara curang mengeluarkan orang yang berbeda pendapat dari lingkaran ahlussunnah dan mengaku mereka sajalah yang ahlussunnah, selainnya dituduh ahli bid’ah.
Sikap seperti itu justeru menunjukan merekalah yang bertolak belakang dari manhaj salafusshalih dalam mengamalkan sunnah. Walhasil mereka sendiri telah keluar dari cara-cara beragamanya salafus shalih dan kaum ahlussunnah wal jamaah.
Jadi, pengakuan sepihak sebagai ahlussunnah dan pengikut salafus shalih tak menjamin bahwa sebuah kelompok benar-benar ahlussunnah dan pengikut manhaj salaf secara hakikat. Apalagi pemaparan bukti hanya dilakukan secara sepotong-sepotong dari manhaj salaf itu sendiri tidak utuh alias menyembunyikan hal-hal yang tak sesuai nafsu mereka.
Jadilah manhaj yang diasumsikan sebagai manhaj salaf hanyalah manhaj salaf imitasi. Terlihat seolah asli, padahal hanya tampilannya saja. Seperti perhiasan sepuhan yang secara zahir tampak seperti emas dan menggoda hati orang-orang awam padahal itu cuma warna luarnya saja. Dalamnya palsu.
Sahabat dan kerabat yang budiman. Tulisan saya ini bersifat umum dan tidak ditujukan untuk menyindir apalagi menyerang kelompok dan madzhab tertentu. Jadi kelompok manapun kalau merasa sudah berikhtiar maksimal mengikut jejak salafus shalih tak perlu merasa disindir.
Wallahu a’lam 
JENDELA NURANI
(Abdillah Syafei)
Abdillah
Abdillah