Mabok Agama Katanya

hukah anda diantara strategi orang ANTI AGAMA untuk menjauhkan kita dari ketaqwaan adalah dengan membuat sebutan “MABOK AGAMA” untuk ditujukan kepada siapapun yang mengabdikan hidupnya bagi berdakwah dan beribadah kepada Allah Subhanahu wa taala. 

Mengapa begitu? Karena ia ingin mengebiri kehidupan beragama kita. Ia hanya ingin menjadikan agama sebagai seremoni unsidentil, bukan keyakinan dan sikap hidup yang melembaga dalam diri. 

Padahal bagi kita bukanlah agama bila tidak mencakup ranah teologi (keimanan), ritual (ibadah) spiritual (kerohanian) bahkan aturan (hukum) yang mestinya diamalkan dalam segala aspek kehidupan. 

Jadi, bagi kita umat Islam sejatinya tidak ada yang namanya mabuk agama itu. Karena agama memanglah melingkupi suluruh ranah kehidupan ini. Tidak bisa dipisahkan antara satu dengan lainnya. Bahkan 24 jam dalam sehari, tiap detik, menit atau jam yang kita jalani memang tidak boleh lepas dari ajaran agama. Dan itu bukan mabok agama. Itu namanya Istiqomah. Nabi Muhammad bersabda: 

اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ  [رواه الترمذي]

“Bertaqwalah kalian kepada Allah dimanapun kalian berada, dan iringilah perbuatan buruk itu dengan perbuatan baik untuk menghapuskannya, dan berakhlaqlah kepada manusia dengan akhlaq yang baik. (Riwayat Turmudzi)

Cara makan, tidur, bekerja mencari nafkah, berumah tangga, berkesenian, berpolitik, berolahraga, apalah lagi dalam beribadah ritual, semua ada ketentuan agamanya. 

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beribadah kepadaku” (Q.S adz-Dzaariyaat ayat 56)

Allah sendiri yang menginformasikan bahwa tidaklah  Dia ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk mengabdi kepada Nya. Artinya tidak pernah ada satu detikpun dari waktu yang tersedia dalam usia kita kecuali semuamya harus untuk mengabdi (ibadah) kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. 

Makanya jangan heran bila konon kaum atheis mengatakan bahwa agama itu candu, sebab orang yang kehidupannya kaffah (total) dalam tuntunan agama dianggap mabok agama. Dan saya tahu bahwa sebagian orang membantah bahwa maksud ucapan tersebut bukan begitu. 

Boleh jadi benar bantahan sebagian orang itu bahwa kata “agama adalah candu” yang asalnya ditulis oleh Karl Max tidak dimaksudkan seperti itu oleh penulisnya. (Wallahu a’lam).  Namun faktanya dalam penggunaan oleh banyak orang arahnya memang ditujukan kesitu. Yakni untuk menyindir orang-orang yang hidupnya totalitas dalam beragama. 

Mari renungkan Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala berikut ini: 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan (totalitas), dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al Baqarah: 208)

Dan saya percaya bukan hanya dalam agama Islam, dalam agama-agama saudara kita yang lainpun,  dalam memeluk agama itu menjadikannya sebagai sesuatu yang menjiwai segala sendi kehidupan itu bukan mabok agama, tapi totalitas keimanan dan aktualisasi kesalehan. Tentu kesalehan sesuai ajaran masing-masing. 

Semoga Allah menjaga hati dan pikiran kita agar tidak disesatkan oleh syaitan dan kaki tangannya. Jangan sampai kita terpengaruh oleh syubhat (kerancuan dalam berpikir) yang disebabkan karena kebodohan kita akan ajaran agama. 

Wallahu a’lam

Abdillah
Abdillah