Maaf Saya Tak Berani Ikut Mengumpat

Mengumpat dan mengutuk sering dilakukan  sebagian orang baik di media sosial maupun di dunia nyata. Bahkan itu dilakukan dalam kegiatan yang (katanya) untuk kebaikan. Padahal Rasululah Shalallahu ‘Alaihi wa Salam pernah bersabda

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلاَ اللَّعَّانِ وَلاَ الْفَاحِشِ وَلاَ الْبَذِىءِ (رواه الترمذي قال الشيخ الألباني : صحيح ).

Seorang mukmin bukanlah pengumpat, pengutuk, berkata keci dan berkata kotor (HR. Turmudzi).

Mungkin banyak yang tak suka dengan pendirian saya. Tapi maafkan saya, karena saya bukan orang yang suka mencaci maki dengan bahasa kasar. Bahkan kepada kaum kaafir dan kaum sesat sekalipun, saya sangat tidak berani menggunakan bahasa keji. Saya merasa sangat rugi jika lisan dan tulisan ini harus saya kotori demi para membangkang agama itu.

Kalau mau memperturutkan perasaan, insya Allah saya juga cukup banyak memiliki kosa kata buruk yang bisa saya pasang di postingan media sosial, bahkan dalam ceramah dan khutbah saya. Namun saya berusaha menahan diri untuk tidak melakukannya.

Berat… Ya, berat sekali menahan emosi ini. Kalau dituruti rasanya ingin sekali saya susun kalimat paling keji dan paling memperhinakan orang-orang yang (maaf) buruk itu.

Namun… Hati nurani ini selalu menolak. Demikian pula akal sehat ini memberikan pertimbangan lain diantaranya:

1) Sudah saya katakan tadi, sangat sayang jika lisan dan tulisan saya saya kotori demi orang-orang yang tak mulia. Rugi sekali rasanya.

2) Saya khawatir, jika membiasakan berkata kotor kepada orang yang buruk itu, menjadi kebiasaan yang terbawa dalam kehidupan rumah tangga dan pekerjaan saya serta kepada orang-orang baik lainnya .

3) Saya khawatir, jangan-jangan otang kaafir dan ahli maksiat melampiaskan kebenciannya kepada orang lain saudara sesama muslim. Akibatnya orang yang tak tahu ceritanya menanggung mudharat akibat perbuatan saya.

4) Saya khawatir, gara-gara buruknya akhlaq saya, agama ini dipandang buruk oleh orang lain. Padahal agama sudah melarang saya berkata keji dan melaknat orang.

5) Saya takut menyelisihi Nabi yang sangat saya idolakan, Sayiduna Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Salam. Dimana beliau dikenal sebagai manusia paling mulia akhlaqnya, paling bagus perkataanya dan paling baik dalam memperlakukan musuh-musuhnya.

Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela (Al Humazah : 1).

Jadi… Mohon maaf saudaraku sesama pejuang. Bukan saya tak cemburu dan marah saat agama saya dihina dan diremehkan. Namun saya ingin melakukan perlawanan dengan cara yang menurut saya lebih baik dan saya pahami lebih sesuai dengan cara Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam.

Aliran sesat dan orang-orang jahat yang ingin menghancurkan agama saya adalah lawan yang memang harus saya dan kita semua hadapi. Kita memang tak boleh mundur dalam membela agama. Namun bagi saya semua harus sesuai aturan dan adab Islam.

Semoga pilihan ushlub (cara) berjuang saya ini sudah tepat. Dan saya memohon maaf kepada para sahabat yang memilih metode yang berbeda dengan saya. Semoga Allah selalu memberikan keistiqomahan kepada saya sehingga tak tergoda untuk bertindak keji dalam menghadapi kemungkaran. Dan semoga petunjukNya selalu Allah berikan kepada kita semua… Aamiin

Samarinda 14 Oktober 2016

(Abdillah Syafei)

Abdillah
Abdillah