Loyalitas Itu Pada Kebenaran, Bukan Pada Tokoh Atau Kelompok

Bagi saya loyalitas itu pada kebenaran bukan pada tokoh dan kelompok. Kebenaran itu dari Allah dan Dia telah mengajarkan dalam agamanya mana yang benar dan mana yang salah, mana yang halal dan mana yang haram, mana yang baik dan mana yang buruk. 

Kalau sesuatu itu halal dan baik, siapaun yang mengerjakannya maka itu tetap sebuah kebaikan dan kita wajib mengakui bahkan kalau perlu mengapresiasinya. Sebaliknya sesuatu yang buruk dan haram, siapapun pelakunya tetaplah kita harus mengatakan bahwa itu hal yang buruk dan haram. Kecuali ada uzur syar’i yang mengkhususkannya. 

Demikianlah prinsip yang insya Allah selalu saya pegang dalam menyikapi kehidupan ini. Saya berusaha semampunya untuk objektif dan tidak terpengaruh dengan kecenderungan kelompok maupun fanatisme ketokohan. Bahkan kepada keluarga dan diri sendiri, yang halal ya tetap saya katakan halal dan yang haram ya tetap dikatakan haram. 

Maka ketika saya memuji sebuah perbuatan baik yang dilakukan oleh orang yang tidak satu kelompok, organisasi, ataupun kubu politik, tidak serta merta bisa diartikan bahwa saya sudah berubah haluan. Soal kebenaran ya tetap kebenaran, soal kecenderungan politik dan organisasi itu soal lain lagi. Ukuran yang dipakai bukan lagi kelompoknya namun benar ataukah  salah perbuatannya. 

Bahkan seandainya ada saudara yang berbeda keimanan sekalipun melalukan perbuatan mulia, misalnya ia menolong orang yang kelaparan, maka saya akan tetap mengakui itu sebagai perbuatan baik. Demikian sebaliknya, sekiranya ada saudara saya seagama yang berbuat jahat, menjambretan misalnya, maka saya akan tetap menganggapnya sebagai sebuah kejahatan.

Allah sendiri mengajarkan kepada kita bahwa kebencian kita kepada suatu kaum sekalipun tidak boleh menyebabkan kita berlaku tidak adil terhadap mereka. Apalagi jika tidak sampai taraf benci, hanya tidak sepaham atau beda pilihan saja. Ini adalah hal yang sangat penting dalam menjalani kehidupan supaya kita tidak terjerumus pada sikap ghuluw (berlebihan) yang sangat dicela oleh agama. 

Wallahu a’lam

Samarinda 21 Ramadhan 1440 H

✍️ Abdillah Syafei

Abdillah
Abdillah