Lembut Dalam Segala Hal

“Mudahkanlah dan jangan kalian persulit, berilah kabar gembira dan janganlah kalian membuat orang lari.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik).

Assalamu alaikum. Dengan segala hormat dan salam kasih sayang serta ukhuwah Islamiyah. Saya memohon dengan segala kerendahan hati dan dari lubuk nurani yang terdalam… Kepada sahabat dan kerabat yang saya cintai karena Allah Ta’ala. Perkenankanlah saya mengemukakan pendapat saya.

Janganlah kejahatan dan keburukan yang dilakukan oleh orang di luar kita menyebabkan kita turut meniru keburukan dan kebejatan mereka, misalkan dengan membuat ‘meme’ dan tulisan-tulisan yang keji, jorok, maupun berisi penghinaan.

Mari kita istiqomah dalam amal shaleh. Amal yang pasti membedakan antara orang yang taqwa dengan orang yang durhaka. Kita hindari kata-kata maupun gambar-gambar meme yang menistakan orang lain.

Semoga dengan itu kita terhindar dari akhlaq yang buruk, kasar dan bengis. Karena kita hanya disuruh menjadi manusia yang lembut dan penuh hikmah dalam berdakwah.

Jangan sampai alasan ketegasan membuat kita menjadi ekstrim. Tegas itu tidak sama dengan kasar. Tegas itu subtansi sikap sedangkan kasar itu adalah sifat dan akhaq yang mewarnai perilaku.

Boleh jadi akan banyak anak muda yang kurang sreg dengan pendirian saya ini, namun beginilah kebenaran yang saya yakini. Bahwasanya kelembutan adalah sesuatu yang harus menghiasi akhalq kita dalam berdakwah.

Al-Bukhari meriwayatkan dari Aisyah bahwa Rasulullah bersabda.

يَاعَائِشَةُ إِنَّ اللَّهَ رَفِيْقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِيْ الأَمْرِ كُلِّهِ

“Wahai Aisyah, sesungguhnya Allah itu Mahalembut dan mencintai kelembutan di dalam semua urusan.

Ya, kelembutan dalam segala urusan, bahkan termasuk dalam urusan peperangan sekalipun. Tidak hanya urusan yang adem ayem serta damai. Pokoknya kelembutan itu sangat dicintai Allah, sehingg Dia berikan keistimewaan kepada kelembutan

يَا عَائِشَةُ إِنَّ اللَّهَ رَفِيْقٌ يُحِبُ الرِّفْقَ وَيُعْطِى عَلَى الرِّفْقِ مَا لاَ يُعطِِي عَلَى الْعُنْفِ وَمَالاَ يُعْطِي عَلَى مَا سِوَاهُ

“Wahai Aisyah, sesunguhnya Allah itu Mahalembut dan mencintai kelembutan. Allah memberi kepada kelembutan hal-hal yang tidak diberikan kepada kekerasan dan sifat-sifat lainnya” (HR. Muslim)

Muslim juga meriwayatkan hadits dari Jabir bin Abdullah bahwa Nabi bersabda.

مَنْ يُحْرَمِ الرِّفْقَ يُحْرَمِ الْخَيْرَ

“Barangsiapa yang tidak memiliki sifat lembut, maka tidak akan mendapatkan kebaikan”.

Kelembutan adalah sifat Allah Jalla wa A’la dan perintah Rasulullah bagi kaum muslimin. Kelembutan bukan berarti kelemahan, bukan pula ketidak tegasan. Tapi kelembutan adalah hiasan yang selalu menempel dan memperindah ketegasan itu sendiri.

Kita tegas menolak penistaan agama dan aliran sesat, tidak berarti kita harus menjadi sosok yang kasar dan bengis. Kita bisa berdakwah dengan tegas namun tetap berlemah lembut. Tegas itu teguh dengan pendirian meski tampilan dan gaya kita tetap lembut dan menyejukkan hati.

Bahkan dalam berdakwah kepada manusia sedurhaka FIRAUN saja Nabi Musa dan Nabi Harun tetap disuruh berlemah lembut dengan Fir’aun. Sebagaimana Firma Allah Ta’ala berfirman.

اذْهَبَا إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَىٰ فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ

“Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, karena dia telah berbuat melampui batas. Berbicaralah kepadanya dengan kata-kata yang lembut, mudah-mudahan ia mau ingat atau takut” [Thaha : 43-44]

Masya Allah… Dengan manusia sekeji firaun saja disuruh berlemah lembut, apalah lagi dengan manusia kebanyakan yang mungkin kejahatannya tak ada apa-apanya dibanding Fir’aun.

Semoga Allah menganugerahi saya dan anda sifat lemah lembut. Lalu kita semua istiqomah dalam itu. Karena kelembutan itu akan menghiasi kehidupan kita dan menjadi penyebab kebahagiaan dalam kematian kita… Aamiin

Abdillah
Abdillah