Ketika Saya Bersikap Kritis

Bersikap kritis itu bagi saya bukan tanda kebencian, namun tanda bahwa kita masih punya perhatian bahkan cinta kasih. Terus terang, kalau membenci sesuatu maka saya justeru lebih cenderung menghindari dan “tak mau tahu”. Ya, walaupun saya berusaha untuk tidak pernah membenci orang lain. Kalaupun terselip kata “benci” maka itu bukan buat manusianya tapi buat perbuatan dan sifatnya. 
Manusianya adalah sama dengan saya, sama-sama mahluk Allah yang pasti juga ingin kebaikan dan perbaikan. Hanya kadang ia salah faham dan salah persepsi soal mana yang baik dan mana yang buruk. Maka yang paling indah adalah diluruskan dengan cara yang baik dan didoakan setulus hati semoga ia mendapat hidayah dan sadar. 
Sahabat dan kerabat yang semuanya saya cintai karena Allah. Jangan sampai kebencian (baca: ketidak sukaan) pada sesuatu atau seseorang menyebabkan kita berlaku tidak adil padanya. Jangan sampai kesalahan seseorang dalam suatu hal membuat kita tak mau mengakui kebaikannya dalam hal lain. 
Sungguh tidak ada selain Rasulullah Saw yang terbebas dari kesalahan. Sehati-hatinya kita menulis, berucap, berbuat dan bersikap kadang ada saja khilafnya. Sehingga bukan hanya orang lain, bahkan kitapun selalu butuh kemakluman. Setiap kita butuh dimaafkan dan setiap kita pastinya butuh masukan. 
Saat kita memberikan masukan dan meluruskan orang lain alangkah baiknya kita carikan ucapan dan sikap yang paling menentramkan bukan yang kian membuatnya anti dengan kebenaran. Sebagaimana kitapun pasti ingin ditegur, dikoreksi dan diberi masukan dengan cara yang memudahkan hati untuk mengikuti kebenaran itu.
Berat dan tidak mudah? Ya, pasti berat dan tidak mudah. Makanya tugas dakwah belum tentu bisa dilakukan oleh semua orang. Makanya menjadi pencerah dan pengajak pada kebaikan itu ada ilmunya, ada metodologinya dan ada fase-fasenya. Sebagaimana obat untuk penyakit fisik, demikian pula dakwah dan wasiat pada kebaikan untuk mengobati penyakit hati. Ada dosis dan takarannya yang disesuaikan dengan kondisi pasien. 
“Setiap tempat ada kalimat yang pantas diucapkan dan setiap kalimat ada tempatnya untuk diucapkan.”
Semoga Allah Sunhanahu wa Ta’ala selalu memberikan bimbingan kepada kita untuk bisa menyampaikan kebenaran dengan cara yang terbaik,yang tidak disalahfahami oleh objek dakwah kita. Sungguh, bila orang menolak kebenaran akibat  cara kira yang salah dalam menyampaikannya, hingga gara-gara kita ia menduga kebenaran adalah kejahatan, maka kita telah bersalah pada agama dan pada kemanusiaan. 
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala jagakan lisan, tulisan dan perbuatan kita hingga selalu berada di atas jalan yang diridhoiNya… Aamiin ya Robbal ‘Aalamiin. 
Sore Ahad, menjelang berbuka puasa
Hamba Allah nan fakir bodoh:
ABDILLAH SYAFEI
*) Gambar hanya “pemanis buatan” 🙂
Abdillah
Abdillah