Ketika Harta di Atas Segalanya

Inilah jaman dimana yang dianggap berpotensi menghasilkan rupiah besar lebih penting dari kejujuran, padahal kadang jelas sekali ia berbohong. Ini jaman dimana uang menjadi standar kebenaran dan motivasi utama pertemanan. Ini jaman dimana orang miskin pasti salah dan diremehkan. Jaman dimana bagi sebagian orang “harta di atas segalanya”.

Demi harta orang rela menutup mata dari fakta dan menutup telinga dari suara kebenaran.  Demi harta orang rela mengorbankan silaturahmi untuk mengejar mimpi. Demi harta orang rela berlaku curang dan memfitnah sesama. Dan demi harta orang tak ragu untuk berdusta. 

Bila kita lemah iman dan tak tahan goda, maka kitapun akan masuk ke ‘kolam’ yang sama. Menyingkirkan hati nurani dan berlagak buta pada kebenaran. Kejujuran hanya menjadi pemanis kata, karena sejatinya dari setiap ucapan itu hanya klaim tanpa bukti nyata. Mulut berkata manis namun perilaku gemar berkhianat. 

Ya, kejujuran memang menjadi perkara berat, ketika budaya manipulasi dan mental ‘bunglon’ sudah menjadi gaya hidup dari rakyat hingga pejabat. Memang tidak semua, tapi banyak dan susah ditebak mana yang tulus dan mana yang ‘bulus’.  

Semoga di tengah gelombang fitnah, kita bisa selalu istiqomah. Mempertahankan kejujuran dan kemuliaan hati, menjauhi sifat rakus dan kemaruk harta serta cinta dunia yang berlebihan. Agar kesuksesan yang kita dapat bukanlah kesuksesan semu… Aamiin

Abdillah
Abdillah