Sahabat dan kerabat, ibadah itu artinya pengabdian. Intinya adalah penghambaan kita kepada Tuhan. Apapun yang diperintahkanNya kita kerjakan dan apapun yang dilarangNya kita tinggalkan. Hasil akhir yang diharapkan adalah keridho’an, bukan pemuasan diri dan penyenangan perasaan semata. 
Kenikmatan beribadah itu adalat bonus yang Allah berikan dari hasil proses keikhlasan.  Oleh karena itulah maka mencari kenikmatan itu letaknya di akhir, bukan di awal. Yakni ketika apa yang Allah syari’atkan bisa kita taati dengan sebaik mungkin. 
Makanya jangan heran, ketika ada orang beriman yang diperintahkan melakukan sesuatu yang berat dan menyusahkan diri, ia tetap mengerjakan.  Meski badan menderita,  meski  perasaan tertekan, meski kecemasan membayangi,  meski ia tersiksa fisik atau psikis,  demi sebuah pengabdian tetap ia jalani. Disinilah kepuasan sejati muncul. 
Ketika ia mengerjakan perintah itu dengan keikhlasan dan hanya berharap keridhaanNya,  maka Allah sisipkanlah perasaan bahagia yang tiada tara, hingga penderitaan yang di awal beratpun berubah seketika menjaddi  rasa gembira. Bukan gembira karena prosesi ritual ibadahnya, namun karena telah mampu menaklukan ego demi mentaatiNya.
Jangan heran ketika mungkin kita menemukan,  seorang hamba yang sudah hampir berangkat haji dan umroh,  tiba-tiba membatalkan keberangkatannya hanya karena ada tetangga yang sedang tertimba bencana.  
Padahal kenikmatan bisa shalat di masjid Nabawi dan masjidil haram sudah terbayang di pelupuk matanya.  Suasana khusyuk dan syahdunya berzikir di tempat-tempat mustazab mungkin sedemikian dirindukannya.  Namun karena ia tahu bahwa Allah lebih ridho saat si hamba bisa menyelamatkan mahukNya,  atau mengganjal perut tetangga yang kelaparan,  maka kenikmatan pribadi yang sudah terbayangkan segera ia tinggalkan. Beralih pada kenikmatan yang lebih tinggi levelnya,  yakni kenikmatan saat ridho Allah yang kebih dipentingkan. 
Muslim mana yang tak kepingin merasakan nikmatnya bermunazat dan beribadah khusyuk di tempat-tempat penuh karomah?  Orang beriman mana yang tak rindu berlama-lama di tanah suci dan merasakan suasana indahnya prosesi ritual ibadah yang didambakan manusia seluruh dunia? Namun semua itu menjadi tidak berarti ketika dihadapkan pada pilihan ridha Ilahi. 
Demikianlah orientasi sejati darinseorang hamba,  kebahagiaan jiwa ketika mampu mengalahkan egoisme dan mementingkan keridhaan Tuhannya adalah kebahagiaan sejati yang paling tinggi nilainya.  Ia tidak lagi mengukur baij dan buruk indah dan tifak indah dengan timbangan perasaan namun dengan kacamata ketaatan yang ujungnya adalah KERIDHAAN ALLAH.
Samarinda,  5 Juni 2020
Wallahu a’lam
* gambar hanya pemanis buatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *