Kendalikan Emosi, Karena Emosi Tak Terkendali Bisa Merugikan Diri

Kita bisa mendapat pelajaran berharga dari fenomena kejiwaan manusia. Menyaksikan bagaimana orang yang emosi, lelah dan panik karena beban pikiran menjadi berucap dan bertindak tidak logis bahkan cenderung mencari-cari kesalahan orang lain agar ada tempat melampiaskan kekesalan hatinya. Padahal si korban yang dimarahi tidak ada hubungan dengan apa yang dikesalkan.

Kembali saya diingatkan pada teori bahwa tidak semua pertanyaan membutuhkan jawaban. Ada orang yang bertanya hanya untuk menegaskan sebuah sikap dan memuaskan perasaan. Misalkan, kita tentu pernah mendengar orang yang sedang bermasalah bertanya: “Ya Allah, apa salah dan dosaku hingga harus mengalami ini?”

Biasanya pertanyaan seperti itu terucap karena manusia sedang emosi dan kurang rasa syukur serta tawakalnya kepada Allah. Nah, jika orang yang tak bisa menahan nafsu dan emosinya bisa bertanya sekurang ajar itu kepada Tuhannya, apalah lagi kepada sesama mahluk. 

Inilah bahayanya memperturutkan emosi, khususnya rasa marah. Karena disaat manusia berada pada kondisi jiwa yang kacau balau dia cenderung berkata dan bertindak tanpa menggunakan logika. Apa yang diucapkan kadang tanpa sadar bahkan bisa mengarahkan pelakunya pada kekufuran. Naudzubillahi min dzalik. 

Tak heran jika Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ.

Apabila seorang dari kalian marah, hendaklah ia diam. (HR. Bukhari dan Ahmad)

Ya, orang yang sedang emosi apalagi marah biasanya pikiran sadarnya tidak berjalan, sehingga kalau berbicara sering tidak terkontrol, baik tidak terkontrol dalam pengertian makna ucapan yang sembarangan maupun dalam pengertian tidak logis atau tidak nyambung dengan kenyataan. 

Saat marah, manusia sering tak berpikir normal, apa saja yang mengganjal di hati ingin dipuaskan. Apakah dengan berteriak, memaki atau bahkan memperhinakan siapapun yang ada di hadapan, bahkan orang yang sedang ingin berbuat baik kepadanya sekalipun. 

Mungkin kita pernah melihat seorang yang membawa barang banyak di tangannya. Karena penuhnya bawaan, sebagian barang terjatuh. Lalu dia berkata dengan emosi:

“Sudah keadaan begini tak ada yang perduli!”

Kemudian ada orang yang kebetulan melihat kesulitan si pembawa barang dan merasa kasihan,  dan ia mencoba menolong memungut barang yang terjatuh. Namun apa reaksi dari orang yang akan dibantu tersebut? Secata mengejutkan ia marah dan berkata;

“Nggak usah! Ngapain juga kamu mau bantu saya? Kamu meremehkan saya namanya. Ini bukan urusan kamu!”

Coba perhatikan perumpamaan di atas. Si pembawa barang yang semula mengomel karena memiliki beban berat dan menganggap tidak ada yang mau membantu dia, saat dibantu justeru marah-marah. Padahal orang yang ingin membantu benar-benar tulus. Tapi karena emosi si pembawa barang tak terkensali, ia justeru kena limpahan kemarahan. 

Memang saudaraku, marah itu kadang membutakan mata hati, menghilangkan kecerdasan akal dan membuat tindakan maupun ucapan manusia tidak terlendali. Makanya tak heran jika Nabi Shalallahu alaihi wa salam bersabda:

لَيْسَ الشَّدِيْدُ بِالصُّرَعَةِ ، إِنَّمَا الشَّدِيْدُ الَّذِيْ يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ.

Orang yang kuat itu bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat ialah orang yang dapat mengendalikan dirinya ketika marah. (HR. Bukhari)

Jadi saat kita marah, sebaiknya tahan diri dengan tidak mengeluarkan pernyataan yang tidak perlu serta jangan melakukan hal yang berkaitan dengan orang lain supaya kita tidak asal bicara dan asal bertindak, karena bisa merugikan diri sendiri.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan tips tentang apa yang sebaiknya dilakukan saat marah atau emosi:

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ ، فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ ، وَإِلَّا فَلْيَضْطَجِعْ.

Apabila seorang dari kalian marah dalam keadaan berdiri, hendaklah ia duduk; apabila amarah telah pergi darinya, (maka itu baik baginya) dan jika belum, hendaklah ia berbaring. (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Hibban)

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kedamaian dan kemuliaan dalam hati, pikiran, ucapan dan tindak-tanduk kita. Sehingga kita terhindar dari keburukan… Aamiin.

*JENDELA NURANI*

(Abdillah Syafei)

Abdillah
Abdillah