Kebahagiaan

Bila harta adalah kunci kebahagiaan, pastilah para konglomerat itu orang yang paling bahagia. Namun faktanya begitu banyak orang kaya yang selalu merasa kurang, banyak masah, dan depresi bahkan sampai bunuh diri.

Bila popularitas dan kemasyhuran yang jadi sebab orang bahagia, tentulah artis dan para pesohor yang paling senang hidupnya. Tapi faktanya begitu banyak selebritas yang juga terjerat narkoba dan obat terlarang, hingga rumah tangga berantakan dan juga tidak sedikit bunuh diri justeru di puncak popularitasnya.

Bila tahta dan jabatan yang menjadi biangnya bahagia, pastilah para raja dan pejabat negara yang paling indah hidupnya. Namun faktanya juga, tak terhitung jumlahnya kaum bangsawan dan pejabat yang masa-masanya dihabiskan dalam derita di balik dinginnya tembok penjara. Demikian juga tak sedikit yang hidupnya “kacau balau” hingga keluarganya berantakan.

Pun bila saja ketampanan dan kecantikan yang membuat orang bahagia, tentu saja para pelacur penjaja syahwat yang menjual kemolekan wajah dan tubuh mereka adalah orang paling bahagia di muka bumi. Namun faktanya, seperti yang lain juga. Begitu banyak kisah sedih, bahkan tragis dalam perjalanan hidup dan petualangan cinta mereka.

Namun ternyata bahagia yang sejati hanya akan dirasakan oleh jiwa-jiwa yang bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan ridho serta bersabar kepada ketentuanNya.

Jadi apakah harta, jabatan, kemasyhuran dan keindahan fisik tidak bisa membuat orang bahagia? Tentu saja bisa. Bahkan semua itu merupakan bentuk-bentuk pemicu rasa bahagia yang ampuh. Ya, ketika menjadikan sabar dan ridho tadi sebagai bingkainya.

Orang kaya yang bertawakal, pejabat yang sabar, pesohor yang ridho, dan semua kelebihan yang diwadahi dalam ketaqwaan adalah alat pencapai kebahagiaan yang tinggi nilainya di sisi Allah Subhanahu wa ta’ala.

Abdillah
Abdillah