Bersuara lantang menentang kedzaliman, memang bagian dari perjuangan. Namun perjuangan bukan sekedar bersuara lantang mencaci maki kedzaliman saja, lalu tak berbuat apa-apa untuk meringankan penderitaan umat.

Memposting kritik dan menyuarakan aspirasi masyarakat di media sosial pun merupakan bagian dari perjuangan. Tapi menganggap remeh bahkan mencela orang yang tak mau bicara atau tak menulis garang dengan tuduhan “takut berjuang” jelas merupakan ketololan akut yang justeru merugikan perjuangan itu sendiri.

Kita harus sadar bahwa setiap manusia itu ada maqom (posisi) dan kompetensinya masing-masing. Seorang aktifis medsos tak layak menuduh orang yang postingannya datar-datar saja sebagai “bukan pejuang” bila faktanya di dunia nyata orang tersebut justeru banyak membantu masyarakat.

Seorang yang selalu posting soal agama, gemar mencopas artikel-artikel yang keras menyerang kesesatan, tak layak menuduh seorang yang postingannya adem ayem sebagai tidak berduli agama, bila faktanya di dunia nyata orang tersebut justeru giat mengajar dan berdakwah membina dan menguatkan aqidah umat.

Orang yang rajin berdakwah ke berbagai pelosok, menghabiskan banyak waktunya untuk mengajar ke masyarakat, juga tak selayaknya merendahkan saudaranya yang sibuk berbisnis mengumpul harta bila kenyataannya saudaranya itu malah banyak meringankan beban ekonomi umat melalui hasil bisnis dan perniagaannya.

Pendek kata, jangan gampang mencela orang lain yang tidak melakukan kebaikan sebagaimana yang kita lakukan. Jangan berpandangan sempit bahwa hanya versi kitalah perjuangan yang sesungguhnya. Ada banyak jalan yang Allah siapkan untuk dilalui oleh para pejuang sesuai kafasitas masing-masing.
Sekali lagi, tiap manusia itu ada maqom (posisi) nya masing-masing. Ada kafasitas pribadi dan profesi yang mungkin mengharuskan ia berjuang dengan cara dan tempat yang tidak sama dengan cara dan tempat kita berjuang. Dimana jika ia mengikuti cara orang lain, justeru perjuangannya titak efektip atau bahkan merugikan.

Sahabat dan kerabat, mari istiqomah dalam kebaikan, lalu dakwahkan dan sebarkan kebaikan itu sesuai dengan kafasitas kita masing-masing. Tak perlu mencaci dan merendahkan uslub (cara) orang lain yang berbeda dengan kita. Silahkan merasa paling benar di dalam hati (keyakinan) tapi tak perlu mengaku-ngaku paling benar dengan sikap meremehkan orang lain.

Wallahu a’lam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *