IKN pindah ke Kaltim. Terlepas dari pro dan kontra di masyarakat, kita tentu sepakat bahwa status Ibukota tetap ada “manis-manisnya”. Artinya tetap akan ada “kue” yang lezat dari status istimewa tersebut. 
Dan ketika ada yang manis-manis, sudah pasti bagai gula dirubung semut. 
Jangan sampai kita masyarakat daerah kemudian malah berpecah belah dan hilang persaudaraan hanya gara-gara nafsu serakah ingin menguasai sendiri efek manis yang ada tersebut.
Jangan sampai kelompok sosial, politik, suku maupun agama tertentu mengklaim sebagai yang paling berhak memakan kue lezat dan nikmat itu. Kita semua warga kalimantan timur adalah sama-sama hamba Allah yang harus selalu menjalin hubungan baik, berlaku adil dan tidak boleh berjiwa serakah. 
Apapun suku, agama, kelompok sosial, bahkan status ekonomi, semua adalah komponen bangsa yang selayaknya bekerjasama meraih kesejahteraan jasmani dan rohani. 
Jangan sampai kita sibuk bertikai, akhirnya malah terjajah di negeri sendiri. Lebih baik semua menjalin sinergi untuk membangun kesejahteraan bersama. Lebih baik kita memerangi kemiskinan, kebodohan dan kemaksiatan (kejahatan) daripada berperang dengan sesama anak bangsa. 
Wallahu a’lam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *