Jabatan Hakikatnya Beban Bukan Keberuntungan


Jangan sampai kita memandang jabatan itu hanya dari sisi fasilitas yang disediakan. Pandanglah jabatan, lebih banyak dari sisi amanah yang pasti harus dipertanggungjawabkan. Dengan demikian kita tidak akan terlena dan lupa diri saat berada di atas sebuah singgasana kekuasaan. Di tingkat jabatan apapun. 

Fasilitas yang disediakan bagi sebuah jabatan sesungguhnya hanya sekedar alat pendukung untuk mempermudah seorang pejabat dalam melaksanakan pekerjaannya. Jangan sampai dibalik pemahamannya, bahwa jabatan adalah sebuah keberuntungan, nasib mujur, rejeki nomplok, sementara tugas yang melekat di dalamnya hanya basa-basi dan formalitas semata untuk meraup aneka fasilitas tadi. 
Pola pikir yang salah inilah yang sejak dulu kala menyebabkan banyak orang berlomba-lomba mengejar sebuah jabatan. Bahkan bersaing secara tidak sehat, menghalalkan segala cara demi menjadi pejabat atau pemimpin. 
Makanya jangan heran kalau ada dan marak mewabah, yang namanya money politik. Karena dalam cara berpikir yang salah money politik tidak  lagi diartikan sebagai sebuah kejahatan yang hina namun dimaknai sebagai sebuah investasi. Ya, yang namanya investasi tentu untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya.
Bila pola pikir kebanyakan kita masih seperti itu, jelas fungsi kepemimpinan sebagai pengabdi kepentingan orang banyak tidak akan berjalan. Setiap pejabat/pemimpin yang berpola pikir seperti itu pasti akan mendzolimi mereka yang dipimpinnya. Apapun yang bisa diekspoitasi akan dikurasnya. 
Namun bila mayoritas kita bisa mengembalikan hakikat kepemimpinan dan jabatan kepada posisi yang sebenarnya, maka kita boleh berharap bahwa komunitas, organisasi ataupun instansi kita akan menjadi baik dan membawa manfaat bagi kesejahteraan masyarakat. 
Wallahu a’lam
*) gambar hanya ilustrasi
Abdillah
Abdillah