Istri Qona’ah dan Suami Bertanggungjawab

Wahai orang yang beriman! Peliharakanlah dirimu dan keluargamu daripada api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, atasnya (penjaganya) para malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. Al Tahrim: 6)

Saudaraku, dalam karir seseorang, kadang manusia terjerumus pada perbuatan haram dalam mencari nafkah hanya karena tekanan dari istri dan keluarganya. Gara-gara keluarganya (atau dirinya sendiri?) tidak memiliki sifat qanaah terhadap rejeki yang telah Allah berikan, ia lalu mencari pembenaran untuk melakukan perbuatan curang. Akhirnya ada pedagang yang mengurangi timbangan, pejabat yang menyalahgunakan jabatan, hingga yang terang-terangan melakukan korupsi.

Jangan korupsi atau melakukan hal HARAM lainnya dalam mencari nafkah, meskipun istri dan keluarga anda menekan anda dengan berbagai keluhan dan rengekan. Meski mungkin kadang-kadang kalimat pedas dilontarkan kepada anda, seolah mengesankan anda sebagai orang yang tak bertanggung jawab karena tak mampu memberi nafkah sesuai permintaan keluarga.

Hendaklah memberi nafkah orang yang mampu menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari apa yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan apa yang diberikan kepadanya. Kelak Allah akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan. (At Talaq:7)

Sungguh rejeki itu kadang dilapangkan dan kadang disempitkan oleh Allah meski kita sudah maksimal dalam berikhtiar. Jelas, semua menjadi cobaan bagi keistiqomahan kita dalam memegang syari’at agama. Semua menjadi cobaan bagi keimanan kita kepada-Nya.

Lelaki yang istiqomah dalam agama tidak boleh terpengaruh oleh rengekan maupun tekanan keluarga. Kecintaannya kepada Allah tak goyah oleh kecintaan kepada manusia termasuk anak-anak dan istri-istrinya. Baginya anak dan istri adalah mitra dalam menjalakan ketaqwaan kepada Allah Zalla wa a’la. Namun terkadang anak dan istri juga menjadi cobaan bagi dirinya.

Sesungguhnya harta-harta kamu dan anak-anak kamu hanyalah ujian. Dan Allah, di sisi-Nya pahala yang besar. Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupan kamu dan dengarlah serta taatlah, dan nafkahkanlah yang baik untuk diri kamu. Dan sesiapa yang dipelihara daripada kebakhilan dirinya, maka itulah orang yang beruntung. (QS. Al Taghabun: 15-16)

Adapun wanita yang beriman dengan sebenar-benarnya keimanan, ia akan menjadi wanita yang qona’ah, bersyukur dan merasa cukup dengan hasil usaha suaminya. Usaha yang telah ia lakukan sepenuh hati dan sepenuh ikhtiar. Ia juga akan menjaga suaminya agar jangan terjerumus pada perilaku menyimpang dalam mencari rejeki tersebut.

Istri yang shalehah akan merasa bahagia dengan hasil usaha yang HALAL sang suami dan sangat takut sekiranya sampai terjadi tindakan haram oleh sang suami gara-gara inginn menyenangkan dirinya. Ia akan membantu suaminya untuk istqomah di jalan agama. Ia akan menentramkan hati suami saat sang suami pulang membawa harta yang sedikit, dan ia akan mengigatkan sang suami agar hati-hati saat si suami pulang dengan limpahan harta yang banyak.

Wanita dan istri yang sholehah akan menghargai sang suami sebab perjuangan dan kesungguhannya dalam berusaha bukan karena besar kecilnya harta yang ia bawa. Ia sadar baahwa dunia bukan segala-galanya. Dunia adalah tempat penuh tipuan dan hal-hal lain yang melenakan. Dunia sering melalaikan kita dari kebenaran sehingga kita harus waspada dengan kehidupan dunia ini.

Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya kehidupan dunia Ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; Kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning Kemudian menjadi hancur. dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. dan kehidupan dunia Ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (QS. AL Hadid: 20)

Istri yang qona’ah dan Suami/kepala rumah tangga yang bertanggung jawab adalah perpaduan yang indah dalam membangun rumah tangga yang sakinah. Merupakan tim yang ampuh dan solid dalam membangun keluarga yang bahagia dunia dan akhirat. Mereka adalah mitra sejati dalam menjalankan pengabdian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Wallahu a’lam

Abdillah Syafei

Abdillah
Abdillah