Insya Allah Tidak Berubah

Jauh hari, sejak belum populernya istilah medsos, dakwah saya memang sudah mengajak pada sopan santun, sikap lemah lembut, hindari berita bohong dan meninggalkan kalimat keji ataupun ujaran kebencian. Jauuuuh sebelum ada sebutan cebong dan kampret bagi pendukung capres yang saling caci maki, saya sudah menyuarakan dakwah santun dan menghindari kekasaran.

Mungkin karena saya mulai berdakwah saat menjadi guru, sehingga ketika menyaksikan adab anak jaman sekarang banyak yang kasar dan tidak sopan, maka saya terinspirasi untuk lebih banyak membahas hal itu. Apalagi memang sejak menuntut ilmu ajaran yang diberikan para guru saya soal sikap santun dan kelembutan perilaku begitu membekas di hati. 

Jadi bila saat ini ada diantara saudaraku yang merasa tersindir atau bahkan tertuduh sebab postingan saya mengajak kepada dakwah lembut, yakinlah bahwa anda hanya sedang “ge er”. Anda salah sangka dan salah faham. Saya tidak sedang menyindir anda, tapi memang menyampaikan ajakan kebaikan buat siapa saja terutama yang saat ini berjuang dengan cara dan narasi yang masih kasar sehingga bisa merusak wajah dakwah.

Ketahuilah sahabatku, bukan hanya sekarang saja saya dituduh oleh dua pihak yang  bertentangan bahwa saya memihak lawan masing-masing. Kelompok pertama mencurigai saya memihak kubu kedua, demikian pula kelompok kedua menuduh saya memihak kubu pertama. Sampai-sampai ada sahabat saya, seorang da’i terkenal yang menasihati dan menguatkan hati ini dengan ucapan:

“Antum memilih jadi jembatan di tengah-tengah, maka antum harus siap diinjak oleh kedua pihak yang berseberangan.”

Demikian kurang lebih nasihat beliau. Nasihat yang singkat, dan bahkan mungkin yang mengucapkannya saja sudah lupa, namun sangat membekas di hati saya. Apalagi yang beliau nasihatkan memang benar terjadi. 

Kelompok yang saling berseberangan biasanya sama-sama ingin kelompoknya yang didukung, sehingga orang yang memang tidak mau memihak kelompok tertentu macam saya ini diolok dan dihina oleh keduanya. Dibilang sok bijak, sok netral bahkan dianggap nggak punya prinsip, dan ungkapan sindiran maupun yang langsung menohok lainnya. 

Tapi tidak masalah bagi saya. Dakwah itu untuk meraih ridha Allah bukan ridha manusia. Sebaik apapun manusia, tetaplah ada yang benci dan yang suka. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam contohnya, manusia yang sempurna kebaikan nya, tetap saja ada yang mencaci dan menghina. Apalagi saya yang memang berlumur salah dan dosa ini, banyak cacat dan celanya, sangat wajar bila ada yang tidak suka.  Terima saja. 

Wallahu a’lam

Samarinda 20-21 Ramadhan 1440 H

✍️ Abdillah Syafei

 

*) Gambar hanya “pemanis buatan”

Abdillah
Abdillah