Inspirasi Perjuangan: Jangan Patah Semangat Saat Difitnah

Seorang Habib Rizieq Shihab yang selama ini aneka aktifitasnya begitu menggambarkan kecintaannya kepada tanah air ini saja malah dikesankan oleh sekelompok orang sebagai ‘perongrong’ kedamaian NKRI.

Saudaraku mari perhatikan sepak terjang perjuangan beliau dengan hati yang jernih dan logika yang seobjektif mungkin.

Beliau begitu takut negeri ini tidak diberkahi oleh Allah, sehingga segala maksiat yang bisa mendatanglan laknat itupun ia tentang. Tampak sekali bahwa sikap antipatinya terhadap maksiat dan pelanggaran hukum adalah untuk kepentingan umat, negeri dan bangsa, bukan untuk diri beliau sendiri. Jika hanya demi kepentingan pribadi, untuk apa beliau bercapek hati, jiwa dan raga dalam berjuang hanya buat menuntut tegaknya hukum dan keadilan?

Bukankah akan lebih nikmat, aman dan nyaman jika dengan segala titel keilmuan, penghormatan banyak tokoh dan sanjungan para pengikut ia nikmati? Beliau bisa hidup aman dan nyaman dalam kemasyhuran tanpa fitnah dan intimidasi.

Namun tampaknya beliau tak berharap semua itu.Beliau tak egois dengan segala kehormatan yang ada lalu, membiarkan umat bergelimang maksiat dan pelanggaran hukum. Habib Rizieq teramat mencintai umat, bangsa dan negara ini, hingga dengan segala apapun yang ia bisa, ia lakukan untuk mencegah kemungkaran dan menyerukan kebaikan. Beliau ingin bangsa dan negara Indonesia ini diridhoi oleh Sang Maha Pencipta baik dalam kehidupan dunia, lebih-lebih untuk masa depan akhiratnya.

Namun apa yang terjadi saudara? Loyalitas dan kecintaan kepada negeri malah berbalas caci maki, perjuangan demi kebaikan NKRI malah dicurigai, bahkan gerakan demi menegakkan hukum dan keadilan dianggap tindak intoleransi.

Aneh bukan?

Padahal tak ada satu indikatorpun yang bisa menjadi alasan untuk menuduh bahwa perjuangan yang beliau lakukan selama ini untuk pribadi, bukan untuk negeri. Kurang mudah bagaimana lagi, sekiranya beliau hanya ingin menikmati dunia ini dengan memanfaatkan sanjungan dan loyalitas pengikutnya? Namun saudara, beliau justeru memilih jalan terjal dan penuh kelelahan di usianya yang bisa dibilang tidak terlalu muda lagi.

Sahabatku, demikianlah seorang manusia pejuang, ia akan menghadapi cobaan dan tantangan. Dan yang lebih dramatis lagi ia harus SABAR karena segala kebaikan yang dia abdikan justeru berbalas celaan dan fitnah, bukan penghargaan dan sanjungan.

Demikian pula mungkin yang terjadi pada anda semua, tiap pejuang dan aktifis kebaikan dalam sekala yang lebih kecil. Tak jarang anda yang begitu tulus mengabdikan diri di jamaah atau organisasi malah berbuah sikap antipati. Atau kesetiaan yang anda tunjukan sepenuh diri, malah berbalas fitnah dan sikap yang membuat anda makan hati.

Semua itu terjadi, mungkin justeru lantaran anda berbuat dan bersikap tulus, apa adanya dan tak pandai mencari muka. Tak pandai menjatuhkan orang lain dan memuji diri di depan pimpinan atau petinggi organisasi. Sementara sebagian orang yang memang ingin membawa misi pribadi, atau tak mustahil justeru ingin menggembosi perjuangan dari dalam, terkesan begitu pandai dalam mengambil hati.

Saat menghadapi situasi seperti itu, apa yang harus anda lakukan?

Mari berkaca pada sikap Imam Besar Habib Rizieq Shihab. Saat difitnah anti NKR apakah beliau lalu kecewa dan memberontak pada negara ini? Tenyata tidak, celaan itu justeru makin menambah semangat beliau dalam menjaga negeri.

Saat dicap intoleran, apakah beliau lalu marah dan mengamuk kepada non muslim yang ada di negeri ini? Ternyata juga tidak. Bahkan beliau dan jamaah beliau makin santun dan bersikap sejuk pada orang lain.

Makin dilecehkan, makin pula beliau menampakkan sikap yang penuh kemuliaan. Makin dihina, semakin bertambah beliau menampakkan akhlak yang terhormat. Dan semakin dihalangi, semakin pula beliau bersemangat menyiarkan kebenaran dan kebaikan.

Maka, sekali lagi, demikian pula lah hendaknya kita para mujahid sejati. Celaan, fitnah bahkan intimidasi jangan membuat kita lemah semangat lalu undur diri dari perjuangan. Apalagi saat tahu bahwa jamaah atau organisasi sarana perjuangan yang ibarat bahtera itu, disusupi “penumpang” gelap yang ingin melubangi dan merusak dari dalam. Semakin bersemangatlah seharusnya kita menjaganya, meski mungkin sang nakhoda dan awak kapal tak menghargai semua itu karena katidaktahuan mereka.

Karena nanti, saat semua terbuka dengan gamblang, saat setiap orang tak bisa lagi menyembunyikan belang, dan saat tidak ada lagi yang bisa ditutupi serta disembunyikan. Siapa yang tulus dan siapa yang rakus pasti akan “telanjang”.

Wallahu a’lam

Abdillah
Abdillah