Pahit tapi nikmat.
Sahabat dan kerabat… Anda pasti tau daun pepaya dan buah pare? Bukankah aslinya rasa dua macam ‘sayur’ ini adalah pahit?  Namun ketika kita bisa memasaknya dengan racikan bumbu tertentu, ditambah perbaikan persepsi tentang dua makanan ini saat menyantapnya, menjadikan dua benda PAHIT ini menjadi nikmat bahkan bisa meningkatkan selera makan. Belum lagi jika kita telisik aneka manfaat kesehatan yang banyak dijelaskan oleh para ahli… Semakin jatuh cintalah kita padanya.

Kira-kira demikian pula dengan kehidupan ini. Taqdir Allah yang berlaku pada diri kita terkadang terasa pahit menurut perasaan kita sendiri. Padahal boleh jadi itu merupakan hal yang baik buat diri kita. Maka, sebagaimana makanan pahit yang bisa menjadi nikmat bahkan menyehatkan, begitu pula ‘kepahitan’ hidup bisa berubah menjadi nikmat dan menguntungkan ketika kita bisa mengubah persepsi dan memberikan ‘racikan bumbu’ yang tepat.

Untuk itu dibutuhkan pengetahuan dan pendalaman spiritual. Diperlulan kesadaran rohani untuk menghayati metode-metode ‘tazkiantun nafs’ (pensucian jiwa) agar kita selalu baik sangka terhadap taqdirNya dan berupaya mengambil sisi positip dari semua kejadian yang menimpa.

Demikian pula dalam kita berjuang membela agama. Mungkin jika dipandang dari sudut hawa nafsu dan perasaan saja, kita akan merasa gentar, takut dan khawatir. Yang tergambar di benak adalah bahwa kita pasti akan berhadapan dengan kesusahan dan kesulitan. Kita akan berhadapan dengan musuh-musuh kebaikan. Dan tentunya musuh kebaikan itu adalah kejahatan. Kejahatan sendiri pasti curang dan ingin melenyapkan kebaikan.

Sahabat… Jika itu yang terpikir di benak kita, maka sama dengan bayangan rasa pahit saat kita mendengar kata PARE dan DAUN PEPAYA sebelum kita memakannya. Namun saat keyakinan dan nilai jiwa yang berbicara, maka pahitnya buah pare dan daun pepaya justeru malah membuat nilai rasa makanan itu menjadi semakin tinggi dan nikmat.

Maka perjuangan pun demikian. Kala iman yang bicara, kecintaan kepada Allah yang kita jadikan kacamata, dan kemuliaan di sisiNya yang jadi tujuan. Aneka rintangan dan onak duri yang menghadang, meski pahit namun begitu nikmat serta indah dirasakan.

Susah, berat dan butuh kerja keras memang. Namun bila kita mampu mengelolanya dengan baik, kerjakeras itu akan terbayar oleh ketentraman dan kebahagiaan yang teramat MAHAL harganya.

Wallahu a’lam

Samarinda, 22 Januari 2016
JENDELA NURANI
(Abdillah Syafei)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *